informasi seputar Kesehatan Masyarakat

Investasi Paling Berharga

Januari 27, 2009 · 1 Komentar

Investasi Paling Berharga…..

Sebelum bicara lebih jauh, dari berbagai jenis investasi yang ada dan ditawarkan, saya ingin tahu investasi apa yang dapat dan paling diandalkan dalam era seperti ini? Investasi emas dan logam mulia kah? deposito berjangka? Ato mo coba investasi tanah (jadi tuan tanah)? Dari sekian banyak jenis investasi yang ada, mayoritas masyarakat masih memilih untuk berinvestasi di bidang ekonomi, sebutlah investasi barang-barang yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan nilainya tidak mudah turun. Hal ini tidaklah salah. Hal ini sangat manusiawi karena manusia selalu melihat hal didunia ini dengan hal-hal yang bersifat nyata. Kenapa hal yang bersifat tidak nyata namun sangat berdampak sangat nyata tidak menjadi sebuah pilihan investasi? Sebut saja, asuransi. Bukankah asuransi juga merupakan sebuah investasi? Asuransi pendidikan, asuransi kesehatan, asuransi hari tua, asuransi kecelakaan. Ato asuransi lainnya…mereka menawarkan jaminan penggantian finansial terhadap sebuah kaim. Namun, prosedur pengurusan klaim asuransi yang sangat berbelit menjadikan masyarakat menjadi enggan untuk melakukan investasi di bidang ini. Betul tidak?

Lalu pertanyaannya, investasi apa yang paling berharga dan cocok untuk saat ini?

Untuk mendapatkan investasi yang paling berharga, kita harus tahu arti investasi itu sendiri. Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti pembelian (dan berarti juga produksi) dari kapital/modal barang-barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi). Contoh termasuk membangun rel kereta api, atau suatu pabrik, pembukaan lahan, atau seseorang sekolah di universitas. Untuk lebih jelasnya, investasi juga adalah suatu komponen dari PDB dengan rumus PDB = C + I + G + (X-M). Fungsi investasi pada aspek tersebut dibagi pada investasi non-residential (seperti pabrik, mesin, dll) dan investasi residential (rumah baru). Investasi adalah suatu fungsi pendapatan dan tingkat bunga, dilihat dengan kaitannya I= (Y,i). Suatu pertambahan pada pendapatan akan mendorong investasi yang lebih besar, dimana tingkat bunga yang lebih tinggi akan menurunkan minat untuk investasi sebagaimana hal tersebut akan lebih mahal dibandingkan dengan meminjam uang. Walaupun jika suatu perusahaan lain memilih untuk menggunakan dananya sendiri untuk investasi, tingkat bunga menunjukkan suatu biaya kesempatan dari investasi dana tersebut daripada meminjamkan untuk mendapatkan bunga.
dengan kata lain, investasi adalah sebuah tabungan yang akan kita ambil dimasa depan. Bentuk-bentuk investasi:
Investasi tanah diharapkan dengan bertambahnya populasi dan penggunaan tanah; harga tanah akan meningkat di masa depan.
Investasi pendidikan dengan bertambahnya pengetahuan dan keahlian, diharapkan pencarian kerja dan pendapatan lebih besar.
Investasi saham diharapkan perusahaan mendapatkan keuntungan dari hasil kerja atau penelitian.

Berinvestasi yang baik adalah melakukan kegiatan menyisikan sesuatu yang berlebih pada saat ini dan bisa kita manfaatkan pada saat kita membutuhkan. Karena dalam hidup kita tidak tahu kapan kita butuh sesuatu, maka investasi yang baik adalah investasi hal yang dapat kita ambil mafaatnya sewaktu-waktu.

Menurut saya, investasi yang paling berharga dan cocok plus pake modal yang sedikit, adalah investasi KESEHATAN. Hanya dengan melakukan pola hidup sehat, kita sudah mengumpulkan modal paling berharga. Pola hidup sehat yang dimaksud adalah,
1.Mengkonsumsi makanan bergizi, beragam dan berimbang
mengkonsumsi makanan yang sehat, bukan berarti dan harus makan makanan yang mahal. Tubuh kita hanya mengenal zat gizi yang terkandung dalam makanan. Bukan mengenali makanan jenis makanan murah dan mahal. Pola makan yanng harus kita lakukan adalah BERGIZI, BERAGAM DAN BERIMBANG
Bergizi artinya Makanan yang dikonsumsi haruslah makanan yang segar, jangan mengkonsumsi makanan basi dan makanan yang sudah dimasak secara berulang-ulang. Mengkonsumsi makanan yang sudah dimasak berulang, selain sudah hilang nilai gizinya, juga sudah mengandung banyak zat-zat karsiogenik atau penyebab kanker
Beragam artinya bahwa makanan yang akan kita konsumsi harus mengandung zat karhohidrat(sumber tenaga), zat protein(nabati dan hewani), lemak, sayur dan buah. Dan jika memungkinkan konsumsi susu(minimal 1 gelas perhari). Usahakan setiap kita makan, harus mencakup semua zat yang diperlukan.
Berimbang artinya jumlah yang dikonsumsi jangan berlebihan pada salah satu zat gizi, dan kekurangan pada zat gizi lainnya. Misalnya kita makan 1 porsi nasi dengan lauk telur goreng, bakwan/mendoan, dan rempela ati bumbu kecap. Contoh porsi makanan tersebut tidak cocok karena tidak mengandung sayuran dan buah namun sangat berlebih pada sumber protein.
2.Menjaga lingkungan sekitar kita agar tetap sehat.
Menurut H.L Blum, faktor lingkungan memiliki andil yang sangat besar pada proses pencapaian derajat kesehatanpada seseorang. Lingkungan yang dimaksud menurut blum adalah lingkungan secara fisik maupun secara sosial. Menjaga lingkungan agar tetap sehat artinya menjaga lingkungan fisik agar tetap bersih, saluran air lancar, tidak ada genangan air, sirkulasi udara dalam rumah lancar, pencahayaan dalam rumah cukup, semak-semak dipantau kerimbunannya agar tidak menjadi sarang nyamuk. Lingkungan sosial juga harus dijaga.Masalah kesehatan adalah bersama. Hubungan antarwarga harus erat agar permasalahan yanng muncul dalam lingkungan tersebut dapat secepatnya diselesaikan secara bersama.
3.Selalu melakukan pemeriksaan kesehatan secara cepat dan rutin
mulailah menjaga kesehatan dari diri sendiri. Melakukan pemeriksaaan kesehatan diri secara rutin dapat mendeteksi penyakit dari sedini mungkin. Kita dapat mencegah penyakit menyebar dalam tubuh atau bahkan menulari orang-orang yang kita sayang. Merupakan suatu petaka ketika layanan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah secara murah tidak dapat kita manfaatkan semaksimal mungkin. Layanan posyandu pada lingkungan RW (posyandu balita maupun lansia) merupakan layanan paling dasar yang diberikan pemerintah bekerjasama dengan kader desa. Jangan sepelekan layanan posyandu, posyandu yang kebanyakan orang awam tahu adalah kegiatan menimbang balita,

Hanya dengan melakukan hal-hal semacam itu, kita sudah melakukan investasi yang paling berharga dengan modal paling ringan.

Coba kita bandingkan antara investasi bernilai ekonomis dan investasi kesehatan. Orang-orang yang selalu melakukan investasi kesehatan (dalam hal ini pola hidup sehat) umumnya mempunyai usia harapan hidup lebih lama daripada orang-orang yang melakukan investasi bernilai ekonomis (tidak melakukan pola hidup sehat). Orang yang berinvestasi ekonomis memang bisa merasakan manfaat secara langsung terhadap jerih payahnya. Namun, apalah artinya uang yang berlimpah jika ternyata tubuhnya tidak sehat. Uang hasil jerih payahnya habis unntuk membayar biaya pengobatan.
Coba llihat orang-orang sekitar kita yang saat ini sedang kurang beruntung menjalani pengobatan rutin. Apakah mereka melakukan pola hidup sehat diatas? Hampir semuanya TIDAK.

Jadi, investasi apa yang jadi pilihan anda? Investasi yang bernilai ekonomis namun hasilnya kita gunakan untuk berobat? Ato investasi kesehatan yang hasilnya dapat kita gunakan untuk mendapatkan kesempatan mendapatkan nilai ekonomis tinggi?

Jangan lupa bahwa ketika kita melakukan pola hidup sehat, manfaat yang dapat kita ambil adalah bahwa tubuh kita tetap terjaga kesehatannya. Ketika tubuh kita sehat, maka kitapun dapat melakukan aktivitas yang lain, misalnya untuk bekerja.

Terkait dengan HIV / AIDS / IMS, kesehatan menjadi investasi paling berharga bagi mereka yang mempunyai resiko tinggi tertular HIV/IMS. Untuk apa harta yang melimpah namun ada penyakit yang bersarang dalam tubuh.

Seperti yang kita ketahui bersama, Human Immunodefisiensi Virus (HIV) adalah retrovirus yang memiliki kemampuan menggunakan RNA nya dan DNA sel induk untuk membuat DNA virus baru. Seperti retrovirus lain, HIV menginfeksi tubuh, memiliki masa inkubasi yang lama (masa laten klinis) biasanya berlangsung 5 – 10 tahun dan pada akhirnya menimbulkan tanda dan gejala AIDS. Siklus HIV dapat dibagi menjadi 5 fase : pengikatan (binding dan entry), Transkripsi (reverse transcription), replikasi(penduplikatan), budding(pelepasan) dan maturasi(pendewasaan virus).

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. “Acquired” artinya tidak diturunkan, tetapi ditularkan dari satu ke orang lainnya; “Immune” adalah sistem daya tangkal atau kekebalan tubuh terhadap penyakit; “Deficiency” artinya tidak cukup atau kurang; dan “Syndrome” adalah kumpulan tanda dan gejala penyakit. AIDS adalah bentuk lanjut dari infeksi HIV. Penyakit yang membuat orang tak berdaya dan penyebab kematian yang disebabkan oleh HIV. HIV berjalan sangat progresif merusak sistem kekebalan tubuh. Kebanyakan orang dengan HIV akan meninggal dalam beberapa tahun setelah tanda pertama AIDS muncul, bila tidak ada pelayanan dan terapi yang diberikan.
Cara Virus Masuk Tubuh (Penularan)
HIV bisa masuk ke dalam tubuh manusia akibat perilaku atau tindakan (pribadi atau tindakan orang lain ), yang memungkinkan darah atau cairan kelamin atau ASI yang tercemar HIV masuk ke dalam tubuh. misalnya: disuntik dokter dengan jarum tidak steril.

Sesudah virus HIV memasuki tubuh seseorang, maka tubuh akan terinfeksi dan virus mulai mereplikasi diri dalam sel orang tersebut (terutama sel T CD4 dan makrofag). HIV akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan menghasilkan antibodi untuk HIV. Masa antara masuknya infeksi dan terbentuknya antibodi yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium adalah selama 2-12 minggu, masa ini disebut sebagai masa jendela (window period). Selama masa jendela, pasien sangat infeksius, mudah menularkan kepada orang lain, meski hasil pemeriksaan laboratoriumnya masih negatif. Hampir 30-50% orang mengalami masa infeksi akut pada masa infeksius ini yakni demam, pembesaran kelenjar getah bening, keringat malam, ruam kulit, sakit kepala dan batuk.

Orang yang terinfeksi HIV dapat tetap tanpa gejala dan tanda untuk jangka waktu cukup panjang bahkan sampai 10 tahun atau lebih. Orang tersebut mudah menularkan infeksinya kepada orang lain, dan hanya dapat dikenali dari pemeriksaan laboratorium serum antibodi HIV. Sesudah suatu jangka waktu, yang bervariasi dari orang ke orang, virus memperbanyak diri secara cepat dan diikuti dengan perusakan limfosit CD4 dan sel kekebalan lainnya sehingga terjadilah gejala berkurangnya daya kekebalan tubuh yang progresif (progressive immunodeficiency syndrome). Progresivitas tergantung pada beberapa faktor seperti: usia kurang dari 5 tahun atau diatas 40 tahun, infeksi lainnya, dan faktor genetik.

Stadium Klinis HIV berdasarkan WHO

Stadium
Berat Badan (BB)
Gejala

Stadium I : Asimtomatik
Skala aktifitas : normal
Tidak ada penurunan BB
Tidak ada gejala atau hanya: Limfadenopati Generalisata Persisten

Stadium II :
Sakit ringan
Skala aktifitas : normal
Penurunan BB 5 – 10%

Luka sekitar bibir (kelitis angularis)
Lesi kulit yang gatal (seborrhea atau prurigo)
Herpes Zoster dalam 5 tahun terakhir
ISPA berulang, mis. Sinusitis atau otitis
Sariawan berulang

Stadium III :
sakit sedang
Skala aktifitas : ditempat tidur > 50%

Penurunan BB > 10%

bercak putih di mulut (Oral hairy leukoplakia)
Diare, candidiasis vaginal, panas yang tidak diketahui penyebabnya > 1 bln
Infeksi bakterial yang berat (pneumoni)
TB Paru dalam 1 th terakhir

Stadium IV :
Sakit Berat (AIDS)

Skala aktifitas : aktifitas di tempat tidur > 50%

HIV wasting syndrome

candidiasis esofagus
Herpes simpleks > 1 bl
Limfoma
Toksoplasmosis otak
Diare kriptosporidiosis lebih dari 1 bulan
Penyakit sitomegalovirus (Cytomegalovirus/CMV) pada organ selain hati, limpa atau kelenjar getah bening (mis. retinitis)
Sarkoma Kaposi
Ca cerviks invasif
PCP
TB ekstrapulmonal
Meningitis criptococus
Ensefalopati HIV

→ 1 CommentKategori: OPINI · Teknik Pemberdayaan
Ditandai: , , , ,

Infeksi Oportunistik – Penyakit terkait HIV

Januari 13, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam tubuh, kita membawa banyak kuman—bakteri, protozoa (binatang bersel satu), jamur dan virus. Sistem kekebalan yang normal akan menekan peerkembangannya sehingga tidak merugikan tubuh. Tetapi bila sistem kekebalan dilemahkan oleh HIV maka kuman, bakteri dll akan berkembang dan menyebabkan masalah kesehatan.
Infeksi yang mengambil manfaat dari melemahnya sistem kekebalan disebut “oportunistik”. Kata “infeksi oportunistik” sering kali disingkat menjadi “IO”.

Tes untuk IO
Kita dapat terinfeksi IO, dan “dites positif” untuk IO tersebut, walaupun kita tidak mengalami suatu penyakit. Misalnya, hampir setiap orang dengan HIV jika dites untuk virus sitomegalia (cytomegalovirus atau CMV) ternyata positif. Tetapi untuk penyakit CMV sangat jarang berkembang kecuali jumlah CD4 turun di bawah 50, yang merupakan tanda kerusakan parah terhadap sistem kekebalan.
Untuk menentukan apakah kita terinfeksi IO, darah kita dapat dites untuk antigen (potongan kuman yang menyebabkan IO) atau untuk antibodi (protein yang dibuat oleh sistem kekebalan untuk memerangi antigen). Ditemukan antigen berarti kita terinfeksi. Ditemukan antibodi berarti kita pernah terpajan pada infeksi. Kita mungkin diberikan imunisasi atau vaksinasi terhadap infeksi tersebut, atau sistem kekebalan mungkin “memberantas” infeksi dari tubuh kita, atau pun kita mungkin terinfeksi. Jika kita terinfeksi kuman yang menyebabkan IO, dan jika jumlah CD4 kita cukup rendah sehingga memungkinkan IO berkembang, dokter kita akan mencari tanda penyakit aktif. Tanda ini tergantung pada IO

IO dan AIDS
Orang yang tidak terinfeksi HIV dapat mengembangkan IO jika sistem kekebalannya jadi rusak. Misalnya, banyak obat yang dipakai untuk mengobati kanker menekan sistem kekebalan. Beberapa orang yang menjalani pengobatan kanker dapat mengembangkan IO.
HIV memperlemah sistem kekebalan, sehingga IO dapat berkembang. Jika kita terinfeksi HIV dan mengalami IO, kita mungkin AIDS.
Di Indonesia, Depkes bertanggung jawab untuk memutuskan siapa yang AIDS. Depkes mengembangkan pedoman untuk menentukan IO yang mana untuk mendefinisikan AIDS. Jika kita HIV, dan mengalami satu atau lebih IO “resmi” ini, maka kita AIDS.

IO Mana yang Paling Umum?
Pada tahun-tahun pertama epidemi AIDS, IO menyebabkan banyak kesakitan dan kematian. Namun, setelah orang mulai memakai terapi antiretroviral (ART), lebih sedikit orang yang meninggal akibat IO. Tidak jelas berapa banyak orang dengan HIV akan jatuh sakit dengan IO tertentu.
Pada perempuan, penyakit pada vagina dapat menjadi tanda awal infeksi HIV. Masalah ini, antara lain, termasuk penyakit radang panggul dan vaginosis bakteri.
IO yang paling umum terlampir di sini, berbarengan dengan penyakit yang biasa disebabkannya,
• Kandidiasis (thrush) adalah infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, atau vagina. Dapat terjadi bahkan dengan CD4 yang agak tinggi. Infeksi jamur seperti kandidiasis pada mulut merupakan salah satu penyebab yang sering terjadi. Kandidiasis dapat meluas sampai esofagus pada pasien AIDS dan akan menyebabkan gangguan dan sakit menelan. Diagnosis berdasarkan pada gejala klinis, rasa sakit di dada waktu menelan
• Virus sitomegalia (CMV) adalah infeksi virus yang menyebabkan penyakit mata yang dapat menimbulkan kebutaan. Rentang CD4: di bawah 50.
• Virus herpes simpleks dapat menyebabkan herpes pada mulut atau alat kelamin. Ini adalah infeksi yang agak umum, tetapi jika kita mengidap HIV, perjangkitannya dapat jauh lebih sering dan lebih parah. Penyakit ini dapat terjadi pada jumlah CD4 berapa pun.
• Malaria adalah umum di beberapa daerah di Indonesia. Penyakit ini lebih umum dan lebih parah pada orang terinfeksi HIV.
• Mycobacterium avium complex (MAC atau MAI) adalah infeksi bakteri yang dapat menyebabkan demam kambuhan, rasa sakit yang umum, masalah pada pencernaan, dan kehilangan berat badan yang parah.
• Pneumonia Pneumocystis (PCP) adalah infeksi jamur yang dapat menyebabkan pneumonia (radang paru) yang berbahaya.
• Toksoplasmosis (tokso) adalah infeksi protozoa otak. Nyeri kepala biasanya disebabkan oleh toksoplasmosis. Toxo dapat dicegah bila odha minum kotrimoksazol
• Tuberkulosis (TB) adalah infeksi bakteri yang menyerang paru, dan dapat menyebabkan meningitis (radang selaput otak). Rentang CD4: Setiap orang dengan HIV yang dites positif terpajan TB harus diobati.

Pencegahan IO
Sebagian besar kuman yang menyebabkan IO sangat umum, dan mungkin kita telah membawa beberapa infeksi ini. Kita dapat mengurangi risiko infeksi baru dengan tetap menjaga kebersihan dan menghindari sumber kuman yang diketahui yang menyebabkan IO yang diketahui.
Sekali pun kita terinfeksi beberapa IO, kita dapat memakai obat yang akan mencegah pengembangan penyakit aktif. Pencegahan ini disebut profilaksis. Cara terbaik untuk mencegah IO adalah untuk memakai terapi anti-HIV yang manjur.

Pengobatan IO
Untuk setiap IO, ada obat, atau kombinasi obat tertentu yang tampak paling berhasil.
Obat antiretroviral yang manjur memungkinkan pemulihan sistem kekebalan yang rusak dan lebih berhasil memerangi IO.

Referensi : – Lembar informasi spiritia
– Modul pelatihan CST, Depkes 2005

→ Tinggalkan KomentarKategori: Info Dasar
Ditandai: , , , , , , , , , , ,

MEMAHAMI KEBUTUHAN ODHA

Januari 13, 2009 · 1 Komentar

Keberfungsian sosial dipandang sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan.

Setiap orang selalu dihadapkan pada usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab itu keberfungsian sosial juga mengacu kepada cara-cara yang digunakan oleh individu maupun kelompok dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Untuk dapat mengidentifikasi kebutuhan manusia, sebenarnya ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu :

1. Kebutuhan manusia pada prinsipnya lebih dari satu. Kebutuhan manusia tersebut merupakan sekumpulan dari kebutuhan dasarnya.

2. Ada beberapa kebutuhan manusia yang sebenarnya merupakan karakteristik dari konteks kebudayaan yang dimilikinya. Manusia yang berada di dalam masyarakat tertentu akan dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat tersebut. Oleh sebab itu Kebutuhan manusia juga dipengaruhi oleh kebudayaannya.

3. Sistem kebutuhan setiap individu sangat tergantung dari perkembangannya. Kebutuhan seorang bayi, anak, remaja dan dewasa akan berbeda. Selain perkembangan fisik, perkembangan psikis juga mempengaruhi jenis kebutuhan yang diperlukan setiap individu.

Penentuan kebutuhan manusia dikelompokkan dalam 2 golongan besar, yaitu :
1. Penentuan kebutuhan berdasarkan karakteristik umum (general)
2. Penentuan kebutuhan berdasarkan perkembangan manusia (spesifik).

Banyak ahli yang memberikan pendapat mereka mengenai jenis kebutuhan manusia secara umum. Neil Gilbert dan Harry Specht di dalam bukunya berjudul The Emergence of Social Welfare and Social Work menyatakan bahwa kebutuhan manusia dapat dikelompokkan dalam S bagian yaitu : a. Physical Needs
b. Emotional Needs
c. Intelectual Needs
d. Spiritual Needs
e. Social Needs

Allen Pincus dan Anne Minahan mengklasifikasikan sumber pelayanan ke dalam 3 golongan yaitu :

1. Sistem sumber alamiah atau Informal
Sistem sumber alamiah atau informal : keluarga, teman, tetangga maupun orang-orang lain yang bersedia membantu. Bantuan yang dapat digali dan dimanfaatkan dari sumber-sumber alamiah adalah dukungan emosional, kasih sayang, nasehat, informasi dan pelayanan-pelayanan konkrit lainnya seperti pinjam uang.

2. Sistem sumber Formal
Sistem sumber formal adalah keanggotaannya di dalam suatu organisasi atau asosiasi formal yang bertujuan untuk meningkatkan minat anggota mereka. Sistem sumber tersebut juga dapat membantu anggotanya untuk bernegosiasi dan memanfaatkan sistem sumber kemasyarakatan

3. Sistem sumber Kemasyarakatan
Sistem-sistem sumber kemasyarakatan dapat berupa Rumah sakit, badan-badan adopsi, program-program latihan kerja, pelayanan-pelayanan sosial resmi, dsb. Setiap orang dalam kehidupannya terkait dengan sistem sumber kemasyarakatan seperti sekolah, pusat perawatan anak, penempatan-penempatan tenaga kerja, program-program tenaga kerja. Orang juga terkait dengan badan-badan pemerintah dan pelayanan-pelayanan umum lainnya seperti RS, Perpustakaan umum, kepolisian, pelayanan sosial, dsb.

Sistem-sistem sumber di atas walaupun secara potensial dapat digali dan dimanfaatkan orang untuk memenuhi kebutuhannya, namun kadang-kadang ada situsi-situasi yang menyebabkan seseorang tidak dapat menggali dan memanfaatkan sistem-sistem tersebut.

Kekurangan-kekurangan sistem sumber informal :
- Klien mungkin tidak terkait pada suatu sistem bantuan informal
- Klien merasa sungkan meminta bantuan kepada teman, relasi, tetangganya
- sumber bantuan informal tidak mampu memenuhi kebutuhan klien

Kekurangan – kekurangan sistem sumber formal :
- Sumber formal tidak tersedia diwilayah tempat tinggal klien
- Klien sungkan atau tidak mau menjadi anggota suatu lembaga sumber formal antara lain disebabkan : klien mungkin tidak tau bahwa lembaga tersebut dapat membantunya, klien tidak setuju terhadap tujuan dan kegiatan lembaga, klen tidak yakin dapat dibantu di lembaga tersebut, dsb
- Klien tidak mengetahui bahwa di wilayah/lingkungannya ada sistem sumber formal yang dapat dimanfaatkan
- Sumber formal tidak menyediakan pelayanan-pelayanan yang diperlukan klien

Kekurangan sistem sumber Kemasyarakatan :
- Sumber yang dibutuhkan tidak tersedia atau jika tersedia jumlahnya sangat kurang untuk diberikan kepada semua orang yang membutuhkan
- Pelayanan atau sumber yang dibutuhkan mungkin tersedia namun secara geografis, psikologis, maupun kultural tidak dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang membutuhkan
- Pelayanan tersedia namun orang tidak mengetahui adanya pelayanan tersebut dan bagaimana memanfaatkannya. Jika mereka ngin memanfaatkannya sering terbentur oleh birokrasi yang berbelit-belit dan sangat kompleks
- Orang yang menggunakan satu atau lebih pelayanan kemasyarakatan dapat mengalami permasalahan baru atau kebingungan karena tujuan dan kegiatan pelayanan kemasayarakatan tersebut sangat bervaiasi.

Untuk dapat menggali dan memanfaatkan sumber-sumber palayanan di atas diperlukan power and authority (kekuatan dan kekuasaan). Kekuatan dan kekuasaan manusia pada dasarnya merupakan kemampuan orang tersebut untuk bertindak secara efektif. Kekuasaan biasanya berkaitan dengan hak seseorang untuk dapat memanfaatkan sumber-sumber pelayanan yang tersedia.

Manajer kasus dalam menggali dan memanfaatkan sistem sumber pelayanan bagi kliennnya, terlibat dalam usaha menegakkan keadilan sosial. Oleh sebab itu manajer kasus juga terlibat dalam kegiatan memperngaruhi peraturan-peraturan, kebijakan-kebijakan, program-program yang menjamin adanya pemerataan bagi setiap orang.

Rujukan :
1. Max Siporin , Introduction to Social Work,
2. Dwi Heru Suoco : Profesi Pekerjaan Sosial, Koperasi Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesejahteraan
Sosial Bandung -1992

→ 1 CommentKategori: Uncategorized
Ditandai: , , , , , , ,

Lima Fakta dan Mitos HIV buat Remaja

Januari 10, 2009 · & Komentar

Lima Fakta dan Mitos HIV buat Remaja
Mark Cichocki, R.N.

Sampai sekarang, kesalahpahaman remaja terhadap HIV/AIDS masih saja tinggi. Susahnya, ketidakmengertian ini makin sering terjadi karena ulah pemberitaan media massa, rasa takut, maupun sikap tak mau peduli para remaja.

Terkait hal itu, di bawah ini terdapat lima fakta penting yang harus diketahui remaja.

1. HIV Tidak Diskriminatif
Sejak epidemi HIV/AIDS bermula 20 tahun lalu, pandangan remaja masih saja kuno. Mereka masih melihat hanya kelompok tertentu di masyarakat yang berpotensi menderita HIV dan AIDS. Gay, pengguna narkoba, dan pekerja seks komersial adalah kelompok yang rentan tertular penyakit ini.

Tapi, itu mitos. Nyatanya, setiap orang berpotensi terinfeksi HIV. Baik itu orang tua atau anak muda, laki-laki maupun perempuan, orang dewasa atau kanak-kanak, kaya dan miskin, gelandangan atau profesor. Faktanya, HIV dapat menginfeksi siapa saja yang tidak melakukan tindakan pencegahan sepatutnya.

2. Oral Seks Tidak Seaman yang Anda Pikirkan
Banyak anak baru gede (ABG) percaya oral seks merupakan salah satu cara berhubungan seks teraman. Sebab, para remaja berpikir mereka bisa terbebas dari risiko hamil dan tertular penyakit. Sayangnya, ini hanya mitos.

Faktanya, oral seks tidak seaman yang ABG pikirkan. Banyak penelitian menunjukkan, pada mereka yang tertular HIV, konsentrasi virus HIV baik di cairan semen maupun cairan vagina amat tinggi. HIV juga bisa masuk melalui aliran darah di selaput lendir yang ada di rongga mulut.

3. Remaja Lebih Takut Hamil di Luar Nikah?
Banyak remaja percaya satu-satunya risiko terbesar berhubungan seks tanpa alat pengaman (kondom) hanyalah kehamilan di luar nikah. Maka, untuk mencegah kehamilan, para remaja mencoba mengontrolnya dengan teknik oral seks atau melakukan ejakulasi di luar vagina.

Sayangnya, ada banyak hal yang mestinya harus ditakuti remaja. Antara lain adalah risiko terkena penyakit infeksi menular seksual (IMS).

Jenis penyakit IMS seperti herpes, sifilis, dan HIV seharusnya lebih menjadi perhatian remaja ketimbang sekadar hamil di luar nikah. Sebab, sekali terkena, mereka akan menderita sepanjang hidup.

4. Fakta yang Disembunyikan dan Ketidaktahuan
Pikirkan masalah ini untuk sesaat. Berapa banyak remaja yang mengaku menderita infeksi HIV saat ditanya pacarnya? Berapa orang yang mau secara jujur menjelaskan sejarah hubungan seksnya ketika tengah melakukan pendekatan? Namun, lebih jauh lagi, siapa yang bisa memastikan seseorang positif HIV dan tahu kondisi kesehatan kekasih lamanya?

Pengakuan klise bahwa “Pacar lamaku negatif HIV” hanya bisa diterima bila klaim itu didukung hasil tes laboratrium. Maka, ajukan pertanyaan yang benar dan segera lakukan tes HIV guna mengetahui kebenarannya.

5. HIV Itu Membunuh, dan Belum Ada Pencegah
Mereka yang terinfeksi HIV sesungguhnya dapat hidup lebih lama, apalagi jika dia menerima pengobatan yang dapat membantunya melawan virus ini. Sayangnya, meski menjalani perawatan medis, tidak otomatis seorang penderita HIV sembuh total.

Penyakit liver, paru-paru, dan infeksi serius pada otak dan organ tubuh lainnya adalah serentetan akibat yang harus diwaspadai orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

Pengobatan medis memang tidak memberi ‘penyembuhan secara cepat’ untuk mengatasi infeksi HIV. Sebab, amat sulit untuk mengatasi penyakit infeksi oportunis akibat HIV.

Sumber: http://aids.about.com

→ 2 CommentsKategori: OPINI
Ditandai: , , , , , , ,

Dasar HIV

Januari 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

DASAR HIV DAN AIDS

HIV dan AIDS

Human Immunodefisiensi Virus (HIV) adalah retrovirus yang termasuk family lentivirus. Jenis Retrovirus memiliki kemampuan menggunakan RNA nya dan DNA sel induk dan membuat DNA virus baru. Seperti retrovirus lain, HIV menginfeksi tubuh, memiliki masa inkubasi yang lama (masa laten klinis) biasanya berlangsung 5 – 10 tahun dan pada akhirnya menimbulkan tanda dan gejala AIDS. Siklus HIV dapat dibagi menjadi 5 fase : pengikatan (binding dan entry), Transkripsi (reverse transcription), replikasi, budding dan maturasi.

HIV menyebabkan kerusakan parah pada system imun dan menghancurkannya. Ini dilakukan dengan menggunakan DNA limfosit CD4 untuk bereplikasi. Proses inilah yang menghancurkan limfosit CD4. Sesudah virus HIV memasuki tubuh seseorang, maka tubuh akan terinfeksi dan virus mulai mereplikasi diri dalam sel orang tersebut (terutama sel T CD4 dan makrofag). HIV akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan menghasilkan antibodi untuk HIV. Masa antara masuknya infeksi dan terbentuknya antibodi yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium adalah selama 2-12 minggu, masa ini disebut sebagai masa jendela (window period). Selama masa jendela, pasien sangat infeksius, mudah menularkan kepada orang lain, meski hasil pemeriksaan laboratoriumnya masih negatif. Hampir 30-50% orang mengalami masa infeksi akut pada masa infeksius ini yakni demam, pembesaran kelenjar getah bening, keringat malam, ruam kulit, sakit kepala dan batuk.

Orang yang terinfeksi HIV dapat tetap tanpa gejala dan tanda untuk jangka waktu cukup panjang bahkan sampai 10 tahun atau lebih. Orang tersebut mudah menularkan infeksinya kepada orang lain, dan hanya dapat dikenali dari pemeriksaan laboratorium serum antibodi HIV. Sesudah suatu jangka waktu, yang bervariasi dari orang ke orang, virus memperbanyak diri secara cepat dan diikuti dengan perusakan limfosit CD4 dan sel kekebalan lainnya sehingga terjadilah gejala berkurangnya daya kekebalan tubuh yang progresif (progressive immunodeficiency syndrome). Progresivitas tergantung pada beberapa faktor seperti: usia kurang dari 5 tahun atau diatas 40 tahun, infeksi lainnya, dan faktor genetik.

Infeksi, penyakit, keganasan, terjadi pada individu yang terinfeksi HIV. Penyakit yang berkaitan dengan menurunnya daya tahan tubuh seperti: infeksi TB, Oral Hairy Cell Leukoplakia, oral candidiasis, Papular Pruritic Eruption, Pneumocystis carinii pneumonia, Cryptococcal meningitis, Cytomegalovirus retinitis, dan Mycobacterium avium (lihat gambar I: Perjalanan infeksi HIV infection dan common disease).

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. “Acquired” artinya tidak diturunkan, tetapi ditularkan dari satu ke orang lainnya; “Immune” adalah sistem daya tangkal atau kekebalan tubuh terhadap penyakit; “Deficiency” artinya tidak cukup atau kurang; dan “Syndrome” adalah kumpulan tanda dan gejala penyakit. AIDS adalah bentuk lanjut dari infeksi HIV. Penyakit yang membuat orang tak berdaya dan penyebab kematian yang disebabkan oleh HIV. HIV berjalan sangat progresif merusak sistem kekebalan tubuh. Kebanyakan orang dengan HIV akan meninggal dalam beberapa tahun setelah tanda pertama AIDS muncul, bila tidak ada pelayanan dan terapi yang diberikan.

Selama tahun pertama sistem kekebalan tubuh meskipun sudah dilemahkan HIV, masih dapat berfungsi baik. Orang yang terinfeksi belum menunjukkan gejala atau hanya gejala minor seperti penyakit kulit, kehilangan sedikit berat badan, radang selaput lendir yang berulang. Kebanyakan orang tidak mengetahui mereka terinfeksi HIV+ pada stadium ini.

1. HIV mencari sel CD4 dan mengikat pada permukaannya. Setelah memadukan dengan selaput sel, HIV mengosongkan bahan genetiknya (RNA virus) dan enzim dalam sel.
2. Kode gentik HIV (RNA) diubah menjadi DNA oleh enzim reverse transcriptase.
3. DNA HIV disatukan pada DNA sel dengan bantuan oleh enzim integrase.
4. Unsur HIV kemudian dibuat dalam sel CD4.
5. Unsur HIV kemudian dirakit untuk membuat virus baru. Proses ini tergantung pada enzim protease.
6. Virus baru mendesak ke luar sel. Virus yang baru ini kemudian menular sel lain, dan siklus berulang

Ingat pabrik! Selama langkah 1 sampai 6, HIV memakai sel CD4 seperti pabrik. HIV membutuhkan ‘alat’ di dalam sel CD4 agar dapat replikasi. Pada langkah 6, virus baru ‘dikapalkan’ (dikeluarkan) oleh pabrik.

Sistem Kekebalan Tubuh Normal

Sistem imun melindungi tubuh dengan mengenali anti gen pada bakteri dan virus lalu bereaksi. Sistim imun atau perisai atau pertahanan yang melindungi tubuh atau kekebalan tubuh yang membantu melawan penyakit disebut sel CD4.Agar perisai tubuh tetap kuat, perlu menjaga kesehatan dengan nutrisi yang baik, mengelola stress, olahraga, dsb.
Pada sistim imun normal, perisai tubuh mampu memerangi penyakit dan mencegah masuk dalam tubuh. Walaupun beberapa penyakit dapat lolos misalnya pada saat kita lemah kemudian jatuh sakit tapi perisai tubuh akan membantu mengurangi pengaruh penyakit dalam tubuh.
Saat sistem imun ini melemah dan rusak disebabkan virus seperti HIV, tubuh menjadi lebih rentan terhadap Infeksi Oportunistik. HIV melukai pertahanan tubuh kita dengan membuat goresan dan lubang pada perisai sehingga penyakit lain mengambil kesempatan seperti TB, malaria, kandidiasis masuk dengan mudah dan lebih kuat, ini disebut Infeksi oportunistik

Efek terhadap sistem kekebalan tubuh
Infeksi primer menunjukkan waktu HIV pertama kali memasuki tubuh. Saat infeksi HIV primer, dalam darah seseorang ada banyak virus HIV. Jumlah kopi virus dalam plasama atau darah dapat melebihi 1.000.000.
Tanda dan gejala termasuk demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, diare, keringat malam, timbul ruam kulit, berat badan turun. Tanda dan gejala ini umumnya terjadi dua sampai empat minggu setelah infeksi, mereda setelah beberapa hari dan sering terdiagnosa sebagai influenza.

Cara Virus Masuk Tubuh (Penularan)
HIV bisa masuk ke dalam tubuh manusia akibat perilaku atau tindakan (pribadi atau tindakan orang lain ), yang memungkinkan darah atau cairan kelamin atau ASI yang tercemar HIV masuk ke dalam tubuh. misalnya: disuntik dokter dengan jarum tidak steril.

Sesudah virus HIV memasuki tubuh seseorang, maka tubuh akan terinfeksi dan virus mulai mereplikasi diri dalam sel orang tersebut (terutama sel T CD4 dan makrofag). HIV akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan menghasilkan antibodi untuk HIV. Masa antara masuknya infeksi dan terbentuknya antibodi yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium adalah selama 2-12 minggu, masa ini disebut sebagai masa jendela (window period). Selama masa jendela, pasien sangat infeksius, mudah menularkan kepada orang lain, meski hasil pemeriksaan laboratoriumnya masih negatif. Hampir 30-50% orang mengalami masa infeksi akut pada masa infeksius ini yakni demam, pembesaran kelenjar getah bening, keringat malam, ruam kulit, sakit kepala dan batuk.

Orang yang terinfeksi HIV dapat tetap tanpa gejala dan tanda untuk jangka waktu cukup panjang bahkan sampai 10 tahun atau lebih. Orang tersebut mudah menularkan infeksinya kepada orang lain, dan hanya dapat dikenali dari pemeriksaan laboratorium serum antibodi HIV. Sesudah suatu jangka waktu, yang bervariasi dari orang ke orang, virus memperbanyak diri secara cepat dan diikuti dengan perusakan limfosit CD4 dan sel kekebalan lainnya sehingga terjadilah gejala berkurangnya daya kekebalan tubuh yang progresif (progressive immunodeficiency syndrome). Progresivitas tergantung pada beberapa faktor seperti: usia kurang dari 5 tahun atau diatas 40 tahun, infeksi lainnya, dan faktor genetik.

Infeksi, penyakit, keganasan, terjadi pada individu yang terinfeksi HIV. Penyakit yang berkaitan dengan menurunnya daya tahan tubuh seperti: infeksi TB, Oral Hairy Cell Leukoplakia, oral candidiasis, Papular Pruritic Eruption, Pneumocystis carinii pneumonia, Cryptococcal meningitis, Cytomegalovirus retinitis, dan Mycobacterium avium (lihat gambar I: Perjalanan infeksi HIV infection dan common disease).

TAHAPAN KLINIS

Pada tahun 1989, WHO mengajukan sistem pentahapan penyakit infeksi HIV yang terjadi pada orang dewasa dan remaja dalam empat tahap klinis. Tahapan ini merupakan modifikasi dari Eastern Co-operative Oncology Group score dengan menambahkan tanda dan gejala penyakit, aktivitas fisik dalam tahapannya. Pasien diklasifikasikan sesuai dengan kondisi klinis, atau skor kinerja, sampai tahap tertinggi. Tahapannya merupakan sebuah sistem hirarki: sekali keadaan pasien di tempatkan, ia tak dapat meluncur ke tahap yang lebih rendah, ia hanya dapat meningkat ke tahap diatasnya. Aksis untuk menghitung CD4 dikenalkan pada tahun 1990 (lihat gambar II – IV).
Cepatnya perkembangan AIDS dipengaruhi oleh muatan virus dalam plasma (viral load) dan jumlah sel T CD4. Makin tinggi viral load makin rendah jumlah CD4 dan makin tinggi perubahan progresivitas menjadi AIDS dan menuju kematian. Kematian dapat disebabkan oleh HIV, infeksi oportunistik atau keganasan dari penyakit
Stadium Klinis HIV berdasarkan WHO

Stadium Berat Badan (BB) Gejala
Stadium I : AsimtomatikSkala aktifitas : normal Tidak ada penurunan BB Tidak ada gejala atau hanya: Limfadenopati Generalisata Persisten
Stadium II : Sakit ringanSkala aktifitas : normal Penurunan BB 5 – 10% - Luka sekitar bibir (kelitis angularis)- Lesi kulit yang gatal (seborrhea atau prurigo)- Herpes Zoster dalam 5 tahun terakhir- ISPA berulang, mis. Sinusitis atau otitis- Sariawan berulang
Stadium III : sakit sedangSkala aktifitas : ditempat tidur > 50% Penurunan BB > 10% - bercak putih di mulut (Oral hairy leukoplakia)- Diare, candidiasis vaginal, panas yang tidak diketahui penyebabnya > 1 bln- Infeksi bakterial yang berat (pneumoni)- TB Paru dalam 1 th terakhir
Stadium IV : Sakit Berat (AIDS)Skala aktifitas : aktifitas di tempat tidur > 50% HIV wasting syndrome - candidiasis esofagus- Herpes simpleks > 1 bl- Limfoma- Toksoplasmosis otak- Diare kriptosporidiosis lebih dari 1 bulan- Penyakit sitomegalovirus (Cytomegalovirus/CMV) pada organ selain hati, limpa atau kelenjar getah bening (mis. retinitis)- Sarkoma Kaposi- Ca cerviks invasif- PCP- TB ekstrapulmonal- Meningitis criptococus- Ensefalopati HIV

PERJALANAN HIV è AIDS

Gambar : CD4 cells

HIV

Hati : (CD4) menurun secara progresif
Lingkaran : (HIV) bertambah.

Ketika hati menurun dan lingkaran bertambah, banyak masalah yang timbul. Banyak masalah serius.

CD4 yang digambarkan berbentuk hati, menurun terus , sedangkan virus HIV bertambah. Ketika jumlah sel-sel CD4 menurun dan virus HIV bertambah (sejalan dengan bertambahnya waktu), maka akan terjadi kehilangan berat badan yang drastis.

Referensi :
- Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan dan Pengobatan bagi Odha, Dirjen P2M&PL Depkes RI, 2004
- Perawatan HIV kronis dengan ARV modul IMAI, 2005
- Modul pelatihan CST Depkes RI 2005
- Modul pelatihan VCT DepKes RI 2005

→ Tinggalkan KomentarKategori: Info Dasar
Ditandai: , , , , , , , , , ,

PERAWATAN DASAR ODHA DIRUMAH

Januari 8, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

HOME BASE CARE
PERAWATAN DASAR DIRUMAH

Orang Dengan HIV/AIDS (Odha) tidak selalu harus dirawat di rumah sakit karena salah satu tempat terbaik untuk merawat Odha adalah di rumah/tempat tinggal Odha itu sendiri dengan dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya. Banyak Odha dapat hidup aktif dalam jangka waktu yang lama, tidak perlu dirawat di rumah sakit. Perawatan di rumah biasanya lebih murah, lebih menyenangkan, lebih akrab dan membuatnya bisa mengatur dirinya sendiri. Penyakit yang berhubungan dengan Odha biasanya akan cepat membaik dengan kenyamanan yang dirasakan di rumah, dukungan dari teman, keluarga dan orang-orang yang dicintainya.

Perawatan Odha di rumah merupakan kesinambungan dari perawatan di rumah sakit. Perawatan di rumah adalah perawatan yang diberikan kepada Odha di tempat tinggalnya sendiri, mencakup perawatan fisik dasar, dukungan psikososial, aktivitas spiritual dan perawatan paliatif. Perawatan ini bisa dilakukan oleh Odha itu sendiri atau keluarga dalam hal ini adalah orang-orang yang mempunyai tanggungjawab utama dalam perawtan Odha di rumah (misalnya: suami/istri Odha, anak, orangtua, saudara kandung, teman, tetangga, dll), manajer kasus, perawat, bidan atau petugas kesehatan lainnya. Sedapat mungkin Odha mau mengurus diri sendiri seperti mandi, buang air besar/kecil, makan dan minum. Jika Odha tidak mampu melakukannya, keluarga adalah pemberi perawatan utama pada Odha, manajer kasus tidak mampu terus menerus bersama Odha, oleh sebab itu perlu memberi edukasi kepada keluarga cara perawatan Odha dan bagaimana keluarga dapat melindungi diri dari penularan dan tetap menjaga kesehatan diri mereka sendiri.

Dalam merawat Odha di rumah harus diingat bahwa pengaruh HIV terhadap setiap orang itu berbeda, sehingga harus diketahui perkembangan keadaan Odha dari dokter atau perawatnya mengenai perawatan apa yang diperlukan. Sering sekali bantuan yang dibutuhkan Odha bukan bantuan medis tetapi bantuan untuk melakukan pekerjaan sehari-hari seperti : memasak, membersihkan rumah, mengambil surat, berbelanja, dsb. Kita juga harus ingat bahwa merawat Odha merupakan tanggungawab yang berat , perlu kerjasama dengan Odha untuk memutuskan apa yang harus dilakukan, siapa yang harus dilibatkan, seberapa banyak kita dapat berbuat, kapan pertolongan tambahan diperlukan, dsb. Peranan keluarga dalam perawatan Odha di rumah selain dalam hal pengobatan juga membantu dalam kebutuhan sehari-hari baik secara moral maupun materi seperti :

cara membantu Odha dalam keadaan darurat
makanan atau diet yang sesuai
kegiatan olahraga yang boleh dilakukan odha
waktu untuk pemeriksaan selanjutnya/control dokter
rekreasi untuk mengurangi stress atau kejenuhan
hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan Odha
mengingatkan Odha agar selalu menjaga kebersihan diri termasuk memelihara kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut setiap hari
keteraturan dan kepatuhan minum obat

Persiapan merawat Odha di rumah

Dalam perawatan Odha di rumah, manajer kasus bertugas untuk membantu Odha/keluarganya memahami masalah, mengidentifikasi dan mencari alternatif pemecahan masalah dan membuat mereka bisa mengambil keputusan atas permasalahan yang mereka hadapi. Peran manajer kasus sebagai edukator dalam hal ini sangat dibutuhkan. Edukasi yang diberikan meliputi :
pemahaman dasar HIV/AIDS mencakup penularan dan cara pencegahan penularan HIV serta masalah-masalah atau gejala-gejala yang berkaitan dengan IDS
mengenal dan menangani masalah fisik/emosional
pemberi perawatan/keluarga juga mempunyai kebutuhan emosional
kapan membutuhkan bantuan/merujuk
Bagaimana mengelola sumberdaya yang ada dalam keluarga dan sumberdaya dalam masyarakat
bagaimana agar bisa hidup normal
Dalam persiapan perawatan Odha di rumah, sebaiknya manajer kasus berbicara dengan Odha dan keluarganya untuk mengidentifikasi kebutuhan Odha dan keluarganya, tim perawatan yang akan dilibatkan seperti keluarga, teman, perawat, dokter, buddies, manajer kasus, merencanakan apa peran dan tugas masing-masing anggota Tim yang akan mendukung Odha dan keluarga.
Dapatkan informasi tertulis yang jelas tentang obat (dosis, jadwal masing-masing obat, efek samping yang perlu diawasi) dan perawatan lain yang akan diberikan
Tanyakan pada dokter atau perawat tentang perubahan kesehatan atau perilaku Odha
Tanyakan Odha siapa yang harus dihubungi untuk dimintai pertolongan atau informasi dan kapan mereka dapat dihubungi
Buat daftar anggota Tim atau orang lain yang harus segera dihubungi, no telepon dan kapan mereka dapat dihubungi
Anggota Tim harus menjaga kesehatan diri agar dapat membantu Odha dan keluarganya. Kita tidak akan mampu merawat orang lain jika diri kita sendiri sakit atau kesal
Pertimbangkan untuk Odha bisa bergabung dengan kelompok dukungan sebaya.
Manajer kasus dan tim perawatan Odha di rumah perlu memberi edukasi/pendidikan pada Odha dan keluarga agar dapat memahami hal-hal mendasar tentang HIV/AIDS.

Pengertian HIV/AIDS
HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyerang sel kekebalan tubuh manusia sehingga tubuh kehilangan daya tahan dan mudah terserang berbagai penyakit. Seseorang yang telah terinfeksi HIV belum tentu terlihat sakit. Secara fisik bisa sama dengan orang yang tidak terinfeksi HIV. Seseorang sudah terinfeksi atau tidak hanya bisa diketahui melalui tes darah.
HIV tidak akan membunuh Odha karena HIV menginfeksi sel-sel darah yang berperan terhadap sistem imunitas (kekebalan) tubuh sehingga sel-sel tersebut tidak berfungsi lagi, akibatnya daya tahan tubuh semakin lama semakin menurun. Hal-hal yang mengambil kesempatan dari daya tahan tubuh yang menurun inilah yang membuat sehngga mengakibatkan kematian penderita.

AIDS singkatan dari Aquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu kumpulan berbagai penyakit yang menyerang tubuh karena melemahnya daya tahan tubuh akibat terserang virus HIV. Seseorang dikatakan AIDS apabila sudah menampakkan berbagai gejala penyakit yang menyerang tubuh akibat hilangnya daya tahan tubuh.

Bagaimana penularan HIV ?

Cara paling umum penularan HIV adalah :
Melalui seks vagina, anal atau mulut tanpa kondom dengan seseorang yang terinfeksi HIV
Melalui penggunaan jarum suntik atau semprit bergantian dengan orang yang terinfeksi HIV
Dari ibu ke bayinya sebelum bayi dilahirkan, selama kelahiran atau melalui pemberian ASI. Tanpa intervensi, 30 % bayi yang dilahirkan oleh ibu HIV + akan terinfeksi HIV. Penggunaan obat tertentu diakhir waktu kehamilan dan selama kelahiran dapat mengurangi kemungkinan bayi terinfeksi menjadi di bawah 10%, tetapi tidak akan mencegah infeksi HIV untuk seluruh bayi
Petugas kesehatan seperti perawat, beresiko tertular HIV jika mereka tertusuk jarum yang mengandung darah yang tercemar HIV atau terpercik darah yang tercemar HIV pada mata, hidung, mulut atau pada luka atau radang yang terbuka. Hanya sedikit orang yang tinggal serumah dengan Odha atau orang yang merawat Odha pernah terinfeksi. Infeksi mungkin terjadi melalui pemakaian pisau cukur bergantian, menyentuh darah Odha pada luka atau radang yang terbuka, atau cara lain yang berhubungan dengan darah Odha.

Bagaimana HIV tidak ditularkan
Kita tidak akan terinfeksi HIV dari udara, makanan, air, gigitan serangga, hewan, piring, pisau, garpu, sendok, Kloset/WC, cium pipi, bersalaman atau lainnya yang tidak melibatkan darah, air mani, cairan vagina, atau ASI.
Kita tidak akan terinfeksi HIV dari kotoran, cairan hidung, air liur, keringat, air mata, air seni atau muntah kecuali cairan ini bercampur darah. Kita dapat membantu Odha dengan makan, mengganti pakaian bahkan memandikannya tanpa resiko terinfeksi, asal kita dapat melindungi diri kita misalnya pakai sarung tangan sekali pakai jika harus membersihkan atau menolong Odha yang sedang diare. Cucilah tangan dengan teliti setelah melepaskan sarung tangan.

Tim yang terlibat dalam penanganan Odha sebaiknya memiliki pengetahuan penting mengenai HIV/AIDS agar pelayanan yang diberikan dapat lebih efektif. Dengan informasi yang lebih lengkap, maka kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Odha.

Pemberian perawatan

Sedapat mungkin dan selama mungkin Odha merawat diri sendiri, sehingga dia merasa lebih mandiri, dapat mengatur rencana sendiri, membuat keputusan sendiri dan melakukan apa yang diinginkan semampu Odha. Misalnya mengembangkan program olahraga, membuat perencanaan makan, dsb.

Mencegah penularan HIV di rumah

HIV tidak mudah menular, kecuali bila melakukan hubungan seksual yang tidak aman/terlindungi atau ada kontak darah dengan darah (penularan melalui darah, penggunaan jarum suntik bersama, transfusi). Virus HIV cepat mati di luar tubuh manusia. Prinsipnya resiko penularan tidak akan terjadi pada perawatan Odha, asalkan mengikuti aturan-aturan yang sudah ditetapkan seperti :
Cuci tangan dengan sabun dan air setelah mengganti seprei , baju atau setelah
terkontaminasi oleh cairan tubuh Odha (misalnya : darah, air kencing, dahak)
Tutuplah luka, baik yang ada pada perawat (keluarga) maupun Odha. Prinsipnya semua luka terbuka yang memungkinkan adanya kontak darah dengan orang lain, dengan seprei/baju Odha, harus ditutup dengan kain bersih. Gunakan potongan plastik, kertas, sarung tangan untuk menyisihkan cairan-cairan yang mungkin keluar dari luka tersebut.
Jagalah agar seprei dan baju tetap bersih agar Odha merasa nyaman dan mencegah kemungkinan timbulnya masalah kulit. Bila yang merawat bisa mengikuti aturan di atas, resiko penularan dari kontak dengan cairan tubuh Odha akan sangat rendah. Bahan-bahan yang terkontaminasi cairan tubuh Odha harus dicuci dan pisahkan dari bahan yang lain, selalu memegang bagian yang tidak terkena noda/cairan. cucilah dengan air dan sabun, bilas, keringkan dan setrika seperti biasanya.
Jangan berbagi barang-barang yang tajam seperti alat cukur, sikat gigi, jarum atau apapun yang memungkinkan terkena darah Odha. Jika terpaksa harus berbagi, alat-alat tersebut harus direbus terlebih dahulu dalam air mendidih sebelum digunakan
Jauhkan barang-barang seperti popok, tissue bekas pakai, saputangan atau apapun yang memungkinkan terkontaminasi cairan tubuh Odha. Letakkan pada tempat yang tertutup dan sulit dijangkau terutama oleh anak-anak
HIV tidak menular melalui kontak sosial, misalnya bersalaman, ngobrol, berpelukan. Akan tetapi Odha dan keluarga sedapat mungkin mneghindari infeksi yang bisa ditularkan melalui kontak sosial seperti Infeksi saluran pernafasan dan diare.

Menghindari Infeksi lainnya
Odha mempunyai daya tahan tubuh yang lemah sehingga mudah terkena infeksi. Infeksi dapat melemahkan daya tahan tubuh Odha. Beberapa cara menjaga kebersihan yang harus dijalankan oleh semua anggota keluarga termasuk Odha :
Cuci tangan sebelum : memasak, makan, menyuapi makanan dan memberi obat
Cuci tangan setelah : memakai kertas tissu toilet, mengganti popok/pakaian dalam
Gunakan air bersih (matang) untuk makan/minum terutama untuk anak-anak
Cucilah seprei/handuk/baju dengan sabun dan air
Simpanlah makanan dalam tempat tertutup sehingga tidak tercemar oleh kotoran/lalat
Bila ada anggota keluarga yang sakit, cucilah gelas sebelum digunakan orang lain
Jangan meludah disembarang tempat
Cucilah dengan air bersih buah-buahan dan sayuran segar yang langsung dimakan tanpa dimasak
Membuang sampah pada tempatnya, kelola dengan benar (ditimbun/dibakar).

Perawatan Paliatif

1.Perawatan paliatif adalah perawatan yang terpusat pada penderita dan keluarganya, ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita dan keluarganya melalui semua tindakan yang aktif dan antisipatif, preventif dan pengobatan terhadapsemua gejala untuk mengatasi penderitaan si sakit. Diperlukan pendekatan secara terpadu oleh sebuah tim yang multiprofesional, yang bekerja secara interdisipliner sepanjang perjalanan penyakitnya, dengan menempatkan upaya membina relasi dokter-pasien-keluarga yang saling menghargai dan saling mempercayai sebagai hal yang utama. Perawatan paliatif harus memperhatikan kebutuhan-kebutuhan penderita baik dari segi fisik, maupun segi intelektual, emosional, sosial dan spiritual. Ia juga menjaga otonomi penderita, menyediakan informasi yang diinginkan dan keleluasaan untuk memilih perawatan yang bagaimana yang diinginkannya.

2.Dalam perawatan paliatif ditekankan bahwa pada penderita dengan penyakit yang sudah lanjut, selain gejala-gejala fisik dan psikologik, juga timbul penderitaan yang bermula pada kondisi distress mengenai keberadaan dirinya. Hal ini sering kali merupakan hal yang kurang dipahami sebagai penyebab penderitaan pada penderita karena hal ini terkait dengan pertanyaan sentral tentang makna dan tujuan hidup, ketakutan akan kematian yang mengancam serta kenyataan bahwa mereka dalam waktu yang tidak terlalu lama akan terpisah dari orang-orang yang dicintainya untuk selama-lamanya. Pada kasus HIV/AIDS, hal ini menjadi sangat penting karena stigma dan penilaian negatif yang melekat pada mereka yang menderita penyakit ini. Tidak jarang penderita ditolak keberadaannya, dikucilkan atau diisolasi dari masyarakat. Perilaku menyimpang seperti penyalahgunaan narkotika, khususnya IDU (injecting drug use), hubungan homoseksual, hubungan heteroseksual dengan pasangan yang berganti-ganti dan lain-lainnya merupakan kondisi yang sering dikaitkan dengan HIV/AIDS. Stigma dan penilaian negatif ini juga berdampak pada keluarga yang (akan) ditinggalkannya.

3.Manusia adalah makhluk bio-psiko-sosio-kulturo-spiritual sehingga perawatan penderita haruslah menyentuh semua demensi kehidupan ini karena masing-masing dimensi akan selalu berinteraksi secara timbal-balik. Adalah manusia yang sakit yang membutuhkan pertolongan kita, bukan penyakit atau gejala-gejalanya saja yang perlu diatasi (treat the patient not only the disease). Sehingga bila penyakit tersebut sudah dalam tahap “incurable” maka perawatan suportif tidak boleh ditinggalkan untuk mengupayakan agar penderita tersebut dapat terbebas dari gejala-gejala yang akan membuatnya makin menderita. Spiritualitas disini berbicara tentang pandangan hidup seseorang serta perilakunya yang merupakan perwujudan dan expresi dari rasa keterkaitannya dengan sesuatu yang memiliki demensi transendental atau sesuatu yang lebih agung daripada dirinya.

4.Tiap manusia mempunyai berbagai macam kebutuhan dasar dan dalam kondisi terminal, kebutuhan ini akan semakin terasa. Kebutuhan dasar tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
Kebutuhan fisik yaitu terbebasnya penderita dari berbagai macam keluhan atau penderitaan/gejala fisik yang mengganggu. Perhatian dan pengamatan yang cermat dan terinci terhadap setiap keluhan yang disampaikan penderita merupakan hal yang penting untuk dapat membuat diagnosa yang tepat dan selanjutnya untuk menentukan tindakan yang tepat untuk mengatasi keluhan tersebut.
Kebutuhan psikologik berupa:
Rasa aman dan nyaman karena keyakinan bahwa dirinya berada dalam perawatan oleh para ahli yang kompeten dan keluarga/care givers yang peduli dengan keadaannya
Kebutuhan untuk mengetahui tentang penyakit yang dideritanya serta gejala-gejala yang sedang/akan dialaminya sehingga penderita tidak berada dalam keadaan ketidak-pastian yang berkepanjangan
Penderita juga ingin untuk tetap dihargai dan dianggap mampu, dengan cara melibatkannya dalam mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan dirinya terutama bila secara fisik ia menjadi sangat tergantung pada orang lain.
Kebutuhan sosial :
Perasaan tetap diterima oleh keluarga/care-givers-nya walaupun penampilan /perilakunya sering kali tidak menyenangkan.
Perasaan tetap dibutuhkan, dilibatkan dan diperhitungkan dalam keluarganya sehingga penderita tidak merasa menjadi beban bagi keluarganya.
Kesempatan bagi penderita untuk membebaskan diri dari keterikatannya dengan orang lain dan dibebaskan dari berbagai tanggung jawab dalam pekerjaan/keluarga yang sebelumnya dipikul penderita dengan menyerahkannya kepada orang lain.
Kebutuhan spiritual :
Kasih sayang yang diexpresikan secara nyata seperti jabat tangan, sentuhan, strokes atau belaian.
Kesempatan untuk memperbaiki hubungan-hubungan interpersonal yang terganggu diwaktu yang lalu, serta mendapatkan pengampunan atas kesalahan-kesalahannya dimasa lalu.
Keyakinan bahwa dirinya tetap dicintai dan dihargai.
Perasaan bahwa hidupnya tetap mempunyai arah/tujuan yang jelas dan berarti bagi sesamanya.

5.Perawatan akhir hayat/perawatan terminal adalah suatu proses perawatan medis lanjutan yang terencana melalui diskusi yang terstuktur dan didokumentasikan dengan baik, dan proses ini terjalin sejak awal dalam proses perawatan yang umum/biasa. Dikatakan sebagai perawatan medis lanjutan karena penderita biasanya sudah masuk ke tahap yang tidak dapat disembuhkan (incurable). Melalui proses perawatan ini diharapkan penderita dapat meng-identifikasi dan meng-klarifikasi nilai-nilai dan tujuan hidupnya serta upaya kesehatan dan pengobatan yang diinginkannya seandainya kelak ia tidak lagi mampu untuk memutuskan sesuatu bagi dirinya sendiri. Atau, penderita dapat pula menunjuk seseorang yang akan membuat keputusan baginya sekiranya hal itu terjadi. Dalam perawatan ini, keluarga ikut dilibatkan sehingga dengan demikian diharapkan semua kebingungan dan konflik dikemudian hari dapat dihindari. Proses ini perlu senantiasa dinilai kembali dan di-up date secara reguler karena dalam perjalanannya tujuan perawatan dan prioritasnya sering kali berubah-ubah tergantung pada situasi/kondisi yang dihadapi saat itu.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized
Ditandai: , , , , , ,

Komunikasi Perubahan Perilaku

Januari 3, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Komunikasi Perubahan Perilaku

“Apa yang dialami oleh seseorang jika ia mulai melakukan perilaku tidak sehat?”

Perilaku tidak sehat harus dihapuskan, karenanya individu perlu:
• Mengenali perilaku merugikan
• Mengerti alternatif yang tersedia
• Dapat berperilaku sesuai pengetahuan perilaku sehat
• Menerima dukungan yang diperlukan untuk mempertahankan perilaku yang telah berubah

Misal , seseorang dengan gangguan jantung harus paham akan makanan pantangannya, dan bagaimana makan tetap enak tanpa makan makanan yang berbahaya bagi kesehatannya, bagaimana menyiapkan dan mendapatkannya, dan ia harus senantiasa patuh makan makanan yang tidak mengganggu aktifitas jantungnya.

Perubahan perilaku perlu terus didukung melalui hubungan yang baik antara provider dengan klien , sehingga klien punya pemahaman dalam dirinya dan terbangkit motivasinya untuk tetap mempertahankan perilaku sehat.

Tantangan manajer kasus adalah merasakan sulitnya perubahan perilaku ketika ia mulai membuka diri terhadap klien guna memapankan dukungan perubahan perilaku klien.

Perubahan Perilaku

1. Model pengurangan risiko : “TERBAIK ADALAH ABSTINENSIA”
Dengan berpuasa maka kemungkinan risiko tidak terjadi. Ketika seseorang tak lagi melakukan hubungan seks atau menggunakan napza dengan jarus suntik maka risiko penularan HIV tak ada. Contoh adalah pesan kepada kawula muda “Just Say No”

Pro dan kontra :
• Beberapa individu memerlukan ultimatum dan kemudian memulai perjalanan masuk kedalam jalur baik. Prinsip ini digunakan dalam pusat detoksifikasi, klien dihentikan dari NAPZA, kemudian selama masa itu diajak berdialog tentang perilaku mereka.
• Program ini agak sulit sulit diikuti meski menjamin 100% bebas terinfeksi. Kebanyakan klien sukar berhenti dan mengubah perilaku dengan cepat. Perilaku yang mereka tinggalkan adalah perilaku yang menyenamgkan mereka . Model ini tidak membiarkan alternatif lain masuk, dan kita tutup mata atas perilaku manusia yang senang pada kenikmatan.

2. Model pengurangan risiko : “Gunakan Kondom”
Model ini tetap mengizinkan orang untuk berhubungan sex dan menggunakan NAPZA. Pertimbangan seperti ini muncul mengngat bahwa ada orang yang tidak mampu berhenti sex atau menggunakan napza, karenanya ditawarkan laternatif lain yakni sex yang aman (menggunakan kondom) dan penggunaan napza aman (tidak bertukar jarus suntik)

Pro dan kontra :
• Model ini tidak dapat menjamin 100% orang tidak terinfeksi. Misalnya ketika orang orang berhubungan sex, kondom robek, maka penularan HIV dimungkinkan. Memusatkan perhatian tentang cara penggunaan kondom, membuat waktu diskusi untuk hal lainnya dengan klien menjadi berkurang, terutama untuk mengubah perilaku klien.

2. Model pengurangan dampak buruk
Pengurangan dampak buruk mengunakan pendekatan “all or nothing” dalam mengubah perilaku. Model ini mengajarkan risiko adalah bagian hidup seseorang sehingga perlu membuat daftar urutan risiko individu akan infeksi HIV seperti dampaknya pada penyakit, pemutusan hubungan kerja, dan penggunaan napza. Pengurangan dampak buruk dirancang untuk memperhatikan risiko yang menempel pada setiap pilihan perilaku.
Dalam model ini terjadi perubahan perilaku bertahap dengan waktu yang panjang. Setiap perubahan perilaku positif dianggap baik dan makin mendekatkan diri pada perilaku sehat.

Manajer kasus bersama klien bekerjasama :
• Mengenali perilaku berisiko
• Memahami mengapa klien terus melakukan perilaku berisiko
• Mengembangkan strategi untuk mengenali apa yang dapat klien mulai lakukan menuju perilaku sehat

Pro dan kontra :
• Salah satu contoh pengurangan dampak buruk adalah program pertukaran jarum suntik. Pecandu tahu bahwa berhenti menggunakan Napza bukan tujuan yang dapat dicapai dalam waktu singkat, ia memerlukan waktu yang panjang. Model pengurangan dampak buruk memahami sulitnya orang berhenti napza atau perilaku berisiko lainnya, karena harus mengurangi risiko dengancara membersihkan alat suntik, menyediakan alt suntik bersih, untuk menurunkan risiko infeksi HIV

Kesimpulan
Ketiga model dam banyak lagi, merupakan contoh model yang dapat digunakan Manajer Kasus HIV dan AIDS. Model bisa bergantian, satu orang klien dapat berganti model sesuai dengan perjalanan waktu. Isu terpenting adalah bagaimana mempertimbangkan model yang tepat bagi klien sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya.

Prose Perubahan Perilaku
• Perubahan perilaku adalah sebuah proses, dan bertahap. Memahami tahapan membantu penguatan proses konseling dan penting diketahui bahwa tidak ada perubahan yang mutlak, sesuai dengan model.
• Seorang klien dapat berubah-rubah tahapannya sampai pada suatu saat ia dapat berhasil berubah. Tahapan ini adalah alat untuk menilai klien sampai tahap mana ia berubah perilakunya.

Tahapan Perubahan Perilaku
1. Tahu/Sadar
2. Bermakna bagi diri
3. Menimbang untung dan rugi
4. Membangun kemampuan
5. Uji coba
6. Perubahan perilaku

Tahu atau sadar
Penting untuk memeriksa pengetahuan dan kesadaran klien tentang perilaku berisiko mereka . seorang klien perlu memahami risiko akibat perilakunya sebelum mereka mau mengubahnya. Pertanyaan terbuka dapat digunakan untuk menilai

Bermakna bagi diri
Untuk mengerti makna HIV dan AIDS bagi diri dan sejauh mana dirinya masuk, perlu pemahaman akan perjalanan penyakit HIV dan AIDS.

Klien dapat berespon akan risikonya terhadap infeksi HIV dan AIDS melalui:
• Mengetahui bahwa perilakunya membuat mereka mengalami risiko terinfeksi HIV dan AIDS
• Tidak mau menerima atau memahami bahwa perilakunya membawa kedalam risiko infeksi HIV dan AIDS
• Memahami risiko dan merasa tidak berdaya, putus asa dan tidak mampu mengubah perilaku

Manajer Kasus dapat membantu klien mengenali akibat perilaku yang menempatkan seseorang dalam risiko terinfeksi HIV

Menimbang Untung dan Rugi
Mengerti untung rugi akan mendorong perubahan perilakunya. Pertimbangkan pro dan kontr diatas perlu menjadi bahan pertimbangan, antara masih ingin mendapat kenikmatan dan belum sepenuhnya mengutamakan keselamatan. Bantulah klien dalam pengungkapan rasa kehilangan mereka ketika perilaku lama ditinggalkan.

Membangun Kemampuan
Membangun kemampuan merupakan persiapan perubahan perilaku, termasuk meningkatkan keterampilan praktis dan dukungan untuk manajemen risiko/bayaran yang harus ditanggung sebagai akibatnya.

Strategi konseling selama membangun kemampuan termasuk:
• Memberikan klien keterampilan praktis, spesifik, mampu dikerjakan.
• Perankan permainan peran perubahan perilaku sehingga mendapat kepastian klien dapat melakukannya
Manajer kasus tidak hanya mendemonstrasikan penggunaan kondom tapi juga menyampaikan perlindungan apa yang diperoleh dari kondom

Uji coba
Uji coba adalah saat dimana klien mencoba menerapkan langkah mengubah perilaku di dalam kehidupan sehari-hari, bukan dalam sesi konseling. Strategi dalam masa uji coba tersebut adalah :
• Merencanakan menghadapi hambatan yang akan dihadapi klien
• Membuat kerangka ulang atas kegagalan yang dialami klien – manajer kasus perlu menanamkan dalam benak klien model yang yang diikuti sesuai alur perubahan perilaku guna mengakhiri kegagalan yang ditemui klien.

Meskipun melalui uji coba tidak selalu berhasil, adanya sedikit perubahan perilaku dapat dipertimbangkan sebagai keberhasilan dan harus didukung oleh manajer kasus.

Mempertahankan perubahan perilaku
• Mempertahankan perubahan perilaku seksual aman sangat bergantung dari intervensi manajer kasus yang terus menerus dan berulang-ulang
• Diharapkan perubahan perilaku akan seiring dengan perubahan kehidupan seseorang, misalnya : penggunaan kondom bisa dihentikan bila seseorang yang tidak terinfeksi melaksanakan hubungan monogamy dengan orang lain yang HIV negatif.
• Bagaimanapun perubahan lainnya atau kembali pada perilaku yang kurang aman dapat merupakan selangkah mundur dari perilaku aman yang lalu dan menyebabkan infeksi HIV.
• Perilaku risiko tinggi dan infeksi baru akan meningkat bila intervensi dihentikan , kerenanya pengurangan risiko dapat terus berlangsung tergantung pada program perubahan perilaku yang berlanjut dan dukungan manajer kasus.

Unsur penting komunikasi perubahan perilaku dan menyuntik aman
1. Penilaian risiko dan kerentanan
Klien perlu menilai risiko dirinya akan infeksi HIV dan beberapa hambatan dalam penggunaan kondom atau menyuntik aman.
Misalnya : hambatan dalam ketersediaan kondom atau jarum steril
2. Penjelasan tentang kondom, penggunaan kondom dan menyuntik aman
Pencegahan atau pesan penggunaan harus ditekankan guna memotivasi kebutuhan,kepercayaan, keperdulian dan kesiapan klien
3. Keterampilan menggunakan kondom dan menyuntik aman
Cara menyuntik dan menggunakan kondom yang betul perlu diperhatikan dan diperkuat. Keterampilan berpikir kritis, mengambil keputusan dan komunikasi dapat ditingkatkan dengan mengemukakan keuntungan penggunaan kondom dan menyuntik aman dam mampu bernegosiasi dalam penggunaannya.
4. Membuat rencana
Dorong klien untuk merencanakan menggunakan kondom atau menyuntik aman dan bagaimana mempertahankannya.
5. Sumber daya dan dana
Manajer kasus harus mampu memberi saran sesuai dengan kemampuan dana dan daya yang tersedia tanpa meninggalkan segi kualitas kondom, langkah untuk menggunakan cara menyuntik yang aman dan jika mungkin memberikan akses penyediaan bahan habis pakai sesuai dengan kemampuan.
6. Penguatan dan Komitmen
Dalam membuat perencanaan manajer kasus harus meninjau kembali perencanaan klien untuk menggunakan kondom atau menyuntik aman dan jadwalkan pertemuan secara berkala.
7. Lingkungan yang mendukung
Ciptakan lingkungan yang mendukunguntuk penggunaan kondom dan menyuntik yang aman , termasuk pilihan jenis kondom dan suntikan, sediakan bahan KIE(Brosur/leaflet) dan pelayanan konseling rujukan/hotline.

Membantu klien memahami risiko mereka
1. Penilaian risiko personal dan kerentanan
Klien butuh penilaian risiko personal akan infeksi HIV dan berbagai hambatan penggunaan kondom dan suntikan aman
Risiko
• Tingkat risiko HIV individual maupun populasi yang diperoleh sebagai akibat aktivitas tertentu :
 Berhubungan sex vaginal dengan atau tanpa IMS
 Berhubungan sex anal
 Penggunaan bersama jarum suntik
 Tranfusi tanpa uji tapis
Kerentanan
• Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kerentanan, misalnya:
 Tekanan ekonomi dalam keluarga
 Kurangnya informasi AIDS pada remaja dan dewasa muda
 Kurangnya keterampilan pengambilan keputusan yang rasional
 Ketidak mampuan mengakses pelayanan dan alat kesehatan
 Ketidak mampuan mempertahankan hak

2. Penjelasan atas kondom, penggunaannya dan cara menyuntik yang aman
Pesan pencegahan /penggunaan kondom atau cara menyuntik aman harus dirancang untuk meningkatkan motivasi dan memenuhi kebutuhan, keyakinan, keperdulian, dan kesiapan klien.
Diantara alat kontrasepsi, kondom laki-laki merupakan alat pelindung yang paling aman melawan IMS, termasuk HIV dan AIDS. Jika digunakan secara konsisten kondom laki-laki merupakan alat kontrasepsi yang tinggi efektifitasnya.
Kondom perempuan juga merupakan alat proteksi melawan IMS termauk HIV dan AIDS. Metode hambatan melalui vagina seperti diafragma, servikal caps, sponge, dan spermisid kurang efektif, meskipun digunakan bersama spermisid.
Tantangan terbesar kesehatan masyarakat dalam menurunkan penyakit HIV dan AIDS dan IMS lainnya dengan alasan tertentu tidak menggunakan kondom , termasuk takut pada reaksi pasangan, penolakan pasangan, kurangnya rasa percaya pada kondom, kurangnya akses pada kondom atau menurunnya kenikmatan. Sebagai tambahan, petugasKB sering mendorong klien mempertimbangkan menggunakan kontrasepsi yang lebih efektif, seperti KB suntik, dan menomor duakankondom sebagai alat pencegah kehamilan.
Meskipun pada kenyataannya kondom merupakanalat pelindung terhadap IMS bacterial seperti GO, klamidia, mudah ditularkan, karenanya penggunaan kondom secara konsisten amatlah penting. Mempromosikan komdom kepada laki-laki oleh petugas KB dan kesehatan membantu menurunkan angka infeksi baru.
Orang cenderung menghindari penggunaan kondom, jika mereka percaya bahwa pasangannya “aman”. Menggunakan kondom dengan mengubah perilaku akan pasangan seksual tidaklah mengurangi risiko penularan IMS, sebagai contoh pandangan PSK terhadap risikonya dengan pelanggan tetap, pelanggan tidak tetap atau pasangan hidup.

Isu Gender
Menjawab isu gender sama pentingnya dengan memusatkan perhatian terhadap peningkatan penggunaan kondom. Konsistensi, tetap bertahan menggunakan kondom, merupakan bentuk perubahan perilaku. Perilaku seksual laki-laki berkaitan dengan keperkasaan. Pada banyak budaya, asumsi tentang maskulinitas dapat meningkatkan penggunaan alcohol atau perilaku tindak kekerasan terhadap perempuan, yang dapat meningkatkan perilaku seksual berisiko. Perempuan juga merasa kecewa dalam melakukan negosiasi penggunaan kondom dengan pasangannya.

Remaja dan Dewasa muda
Dorong anak muda untuk menggunakan kondom dan mengembangkan keterampilan menolak hubungan seksual yang tidak diinginkan, suatu hal yang penting. Secara global, infeksi HIv begitu cepat meningkat pada mereka yang berusia dibawah 25 tahun, terutama perempuan. Orang muda tidak berpengalaman menggunakan kondom, merasa tidak akan berisiko, melakukan seks secara spontan, dan malu menyela hubungan seks dengan memasang kondom. Beberapa perempuan muda memerlukan keterampilan menolak hubungan seks yang berisiko dengan pasangan laki-laki, terutama yang berumur lebih tua.

Lelaki dan perempuan muda lebih berpikir melindungi diri dari kehamilan daripada IMS. Berikan pesan tentang kedua hal ini, yang dapat diproteksi dengan kondom yang berkualitas.

Kondom dalam jangkauan
Program KB, klinik dan apotik pada beberapa Negara tidak mau menyediakan kondom kepada orang yang belum menikah. Akses ke kondom untuk orang muda sulit karena stigma, malu, dan lain-lain. Kondom akan lebih mudah dijangkau orang muda jika dijual di toko klontong.

Banyak laki-laki dan perempuan menolak menggunakan kondom karena hilangnya kenikmatan, namun ada jenis kondom yang menyenangkan untuk dipakai. Tidak seperti kondom lateks laki-laki, terbuat dari polyurethane,misalnya : memfasilitasi perpindahan panas tubuh sehingga meningkatkan kenikmatan. Beberapa contoh produk kondom dirancang lebih mudah digunakan, dan tidak membuat orang alergi. Kondom lateks dapat menimbulkan alergi bagi yang tidak tahan. Penggunaan lubrikan pada kondom juga meningkatkan kenikmatan, mengurangi gesekan dan risiko pecah.

Cara menyuntik aman
Penularan melalui penggunaan suntikan lebih efektif daripada berhubungan seks tanpa kondom. Penggunaan jarum suntik mempunyai hubungan yang erat satu sama lain, sehingga seringkali bertukar jarum tanpa dibersihkan terlebih dahulu, sehingga dalam populasi HIV sangatmudah menyebar.

Seperti juga orang muda yang sedang dalam masa seksual aktif, penggunaan Napza suntik dapat menularkan HIV melalui hubungan seksual yang tidak aman. Beberapa negar sepertisebagian daerah Cina, India, Myanmar, banyak perempuan mendapatkan infeksi melaui hubungan seksual dengan pasangan pengguna Napza suntik. Pengguna napza suntik juga memberi kontribusipenularan HIV dari ibu ke anak.

Cara utama menghindari penularan HIV pada mereka yang secara seksual aktif adalah dengan menggunakan kondom secara benar, konsisten, atau menghindari penetrasi seksual.

Penularan lewat jarum suntik dapat ditrunkan melalui hal dibawah ini :
o Berhenti menggunakan napza melaui suntikan
o Gunakan jarum, alat suntikdan peralatan steril setiap kali.
o Tidak menggunakan alat suntik bersama
o Cuci peralatan diantara penggunaan

Cara terpenting membuat jarum tetap digunakan secara bersih adalah dengan tersedianya program pertukaran jarum suntik. Program ini mempunyai beberapa keuntungan, yakni menurunkan penggunaan jarum suntik terkontaminasi, sehingga menurunkan penyebaran HIV baru secara umum. Juga dengan cara menurunkan penggunaan jarum bersama dan menggunakan peralatan suntik bekas pakai. Terbukti cara ini selain menurunkan penularan HIV juga tidak meningkatkan penggunaan napza illegal. Beberapa Negara tidak mengizinkan program seperti ini, baik secara hukum maupun maupun kebijakannya. Jika program pertukaran jarum secara hokum tidak dibenarkan, maka pencucian alat suntik adalah cara yang dapat diterima untuk penggunaan cara suntik aman.

3. keterampilan penggunaan kondom dan suntui aman
Keterampilan praktis klien dalam menggunakan kondom dan praktek menyuntik aman harus diamati dan diperkuat.

Cara menggunakan kondom laki-laki :
1. Sarankan untuk menyiapkan dan memutuskan mengunakan kondom sebelum berhubungan seks, untuk menghindari kemungkinan “lupa” atau sudah terlanjur.
2. Periksabatas kadaluarsa, pastikan tidak lebih dari 4 tahun keluar dari pabrik
3. Tekan bungkus kondom dengan jari untuk memastikan bungkusnya utuh.
4. Robek bungkusnya, jangan menggunakan alat tajam untuk menghindari kondom robek.
5. Pasang kondom pada saat penis ereksi.
6. Pastikan bagian bergulung diisi luar. Tekan ujung kondom dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengeluarkan udara.
7. Letakan puncak kondom pada ujung penisdan gunakan tangan lain untuk mendorong gulungan kondom menyusuri batang penis sampai pangkal.
8. Gunakan kondom selama berhubungan seks
9. Keluarkan penis setelah ejakulasi dan masih ereksi, jaga kondom tidak mengeluarkan ejakulatnya.
10. Usahakan pasangan yang melepaskan kondom dari penis, untuk menghindari infeksi dari cairan yang berada di permukaan kondom
11. Ikat kondom untuk menghindaritumpahnya cairan ejakulat, bungkus dengan kertas toilet, buang segera di tempat yang tidak terjangkau. Jangan buang ke dalam lubang toilet.

Cara menggunakan kondom perempuan :
1. Sarankan untuk menyiapkan dan memutuskan mengunakan kondom sebelum berhubungan seks, untuk menghindari kemungkinan “lupa” atau sudah terlanjur.
2. Periksabatas kadaluarsa, pastikan tidak lebih dari 4 tahun keluar dari pabrik
3. Tekan bungkus kondom dengan jari untuk memastikan bungkusnya utuh.
4. Robek bungkusnya, jangan menggunakan alat tajam untuk menghindari kondom robek.
5. Lihat kondom apakah utuh
6. Seka bagian dalam kondom agar lubrikan menyebar, jika perlu tambahkan lubrikan
7. Cari posisi tubuh yang nyaman untuk pemasangan kondom
8. Pegang bagian ujung tertutup kondom, cincin dalam terletak pada ujung kondom yang tertutup.
9. Pilin cincin bagian dalan dengan ujung ibu jari dan jari tengah sampai berbentuk seperti angka delapan.
10. Buka bibir vagina dengan tangan yang lain, masukan kondom diantara dua bibir.
11. Gunakan telunjuk untuk mendorong kondom kedalam sampai jari menyentuh tulang kemaluan dari dalam vagina
12. Pastika cincin bagian luar terbuka, berada berlawanan denga cincin bagian dalam
13. Pegang peis dan masukan kealam kondom, jika terdengar bunyi-bunyian maka penis belum betulposisinya,hentikan hubungan seks dan ganti dengan kondom baru
14. Setelah selesai berhubungan seks dan peis sudah dicabut, pilin cincin keluar agar cairan tidak tumpah.tarik kondom dari vagina.
15. Bungkus dengan kertas toilet, buang segera di tempat yang tidak terjangkau. Jangan buang ke dalam lubang toilet

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized
Ditandai: , , , , , , , , ,

distribusi kondom, cara paling efektif cegah penyebaran HIV

Januari 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pemasaran Sosial merupakan proses untuk mempengaruhi perilaku manusia dalam skala besar dengan menggunakan prinsip-prinsip pemasaran untuk tujuan masyarakat dan bukan untuk keuntungan komersial.
(Smith, W.A. Academy for Education Development, Washington D.C., 1999)

Pemasaran Sosial merupakan strategi untuk perubahan perilaku yang memadukan elemen pendekatan tradisional dan perubahan sosial dalam suatu perencanaan dan kerangka kerja yang terpadu dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan ketrampilan dalam pemasaran. Pemasaran sosial memiliki tujuan untuk menjawab permasalahan sosial, tidak hanya mendapatkan keuntungan komersial.

Praktisi pemasaran sosial bertujuan untuk mengubah perilaku sehingga tujuan dari program pemasaran sosial bukanlah supaya KD mengetahui kondom dan manfaatnya, melainkan agar KD menggunakan kondom secara konsisten. Para praktisi pemasaran sosial bertujuan agar KD membeli dan menggunakan produk yang mereka tawarkan (yaitu kondom).

Pemasaran sosial berdasarkan pada falsafah pertukaran (Philosophy Of Exchange). Pertukaran artinya kedua pihak (penjual dan pembeli) harus menerima sesuatu yang mereka perlukan atau inginkan agar pertukaran ini berhasil.
· Saya ingin mengurangi risiko tertular HIV, jadi saya akan menggunakan kondom saat berhubungan seksual.” (WPS)
· “Saya ingin menurunkan prevalensi HIV dan tetap menghasilkan uan jadi saya akan menjual kondom pada WPS dan tamu di bar.” ( Pemilik/Pengelola bar)

Pemasaran Sosial memasukan penelitian sebagai bagian dari pelaksanaan kegiatannya. Penelitian membantu mengidentifikasi elemen penting apa saja yang perlu dirubah untuk mencapai tujuan. Karena perilaku manusia bukan merupakan sesuatu yang stabil maka intervensi yang dilakukan harus dimonitor dan dievaluasi untuk memastikan efektivitasnya. Artinya penelitian harus diulangi secara rutin dapat menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi pada kelompok dampingan. Pemasaran Sosial Kondom sebagai salah satu intervensi efektif setiap 6 bulan melakukan pemetaan untuk mengetahui efektivitas dari intervensi yang dilakukan dalam mengubah perilaku KD.

Pemasaran Sosial Kondom (Condom Social Marketing/PEMASARAN SOSIAL KONDOM): merupakan pendekatan yang mengadaptasi konsep pemasaran komersial yang sama untuk mengurangi perilaku berisiko tinggi dan mempromosikan gaya hidup sehat melalui pemakaian kondom. Dalam Pemasaran Sosial Kondom, manfaat sosial atau tujuan yang diharapkan adalah menurunkan prevalensi IMS dan HIV melalui kegiatan- kegiatan khusus yang dirancang untuk mempromosikan penggunaan kondom di kalangan kelompok berisiko.

Dalam PEMASARAN SOSIAL KONDOM penting sekali melakukan segmentasi KD, siapakah kelompok yang kita tuju; apakah WPS pinggir jalan atau WPS di lokalisasi BanyuBiru? Mengapa? Karena setiap kelompok mempunyai nilai, perilaku, dan sistem kepercayaan yang berbeda. Dengan demikian penting sekali dalam program pemasaran sosial kondom untuk mengenal KD dengan baik.

Dari sudut pandang perancang program, pemasaran sosial menggunakan 4 konsep yang biasa dikenal dengan Empat P

1. Product merujuk pada produk yang ditawarkan pada kelompok
· Barang: kondom, oralit, tablet tambah darah
· Jasa: konseling, imunisasi
· Ide: langit biru, warga siaga

Bagaimana produk yang kita tawarkan dapat terpatri di benak KD kita. Untuk itu, biasanya, posisi dari didasarkan pada manfaat yang didapat. Saat berbicara dengan KD, Anda dapat mengetahui apa yang paling dihargai dari berbagai manfaat yang ditawarkan oleh suatu produk. Atau, hambatan yang mungkin diprediksikan.

Contoh: penggunaan kondom. WPS merasa bahwa menawarkan kondom merupakan pengajewantahan dari kemampuannya untuk menjaga kesehatan tubuhnya, membujuk tamu, dan membuat mereka merasa sebagai orang yang bertanggung jawab atas hidupnya. Walaupun mereka tahu bahwa menggunakan kondom mungkin berarti tamu akan ”main” lebih lama, tidak mudah dilakukan, dan terkadang menyebalkan (bila tamu marah dan pergi meninggalkan mereka untuk cari WPS lain).

2. Price (harga) tidak hanya berarti biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh sebuah produk atau layanan, tetapi termasuk semua hambatan yang harus dilalui konsumen untuk mendapatkan produk dan layanan. Misalnya: rasa jengah menanyakan tentang kondom pada penjual di apotik, rasa malu dan waktu yang hilang dalam rangka mengadaptasi produk atau perilaku baru, waktu yang terbuang untuk menunggu giliran pemeriksaan di klinik.

· Jika saya ingin menggunakan kondom, saya mungkin kehilangan pelanggan (mereka mungkin pergi ke tempat lain). Tetapi ‘harga’ yang harus mereka bayar sekiranya terkena IMS, akan lebih besar.

3. Place (tempat) tempat dimana produk atau layanan ditawarkan. ”Tempat” merujuk
· kualitas dari layanan yang ditawarkan kepada konsumen.
· saluran distribusi atau sistem yang menjadi tempat alur produk
Penting untuk menyediakan pendidikan dan pelatihan bagi orang-orang yang menawarkan produk atau memberikan layanan.
· Kondom dijual dibanyak outlet dimana pekerja seks berada sehingga lebih mudah untuk diakses à penjualnya perlu dilatih tentang penularan HIV dan pencegahannya termasuk didalamnya cara memakai kondom. Dengan demikian ada unsur pendidikan yang kental dalam pemasaran sosial.

4. Promotion (promosi) menyampaikan pesan kepada konsumen tentang suatu produk atau layanan. . Promosi mencakup
· pesan (apa yang dikatakan mengenai perilaku baru dan apa manfaat dari produk dan layanan yang ditawarkan)
· keputusan mengenai saluran komunikasi (bagaimana pesan sampai ke orang yang benar pada waktu yang tepat).

Promosi mencakup pengiklanan penjangkauan, hubungan masyarakat, promosi konsumen, organisasi masyarakat dan pendidikan sebaya.

Pemasaran Sosial dicirikan dengan adanya strategi POSITIONING. Positioning adalah image yang muncul dalam pikiran seseorang, tertanam dalam benak sesorang, serta memberikan nilai positif di dalam pikiran konsumen. Image ini seharusnya muncul lebih baik dibandingkan image dari pesaingnya. Misalnya:
· Djarum Super digambarkan dengan seorang laki – laki muda yang penuh petualang.
· Image dari pengguna kondom adalah seorang yang memiliki tubuh dan badan menarik dan tahu bahwa kondom dapat membuat seks aman.

Berdasarkan pola pandang konsumen, maka pamasaran sosial berkaitan dengan:

1. Ketersediaan (avaibility):Kondom harus tersedia bagi mereka yang benar – benar memerlukan. Untuk itu kondom harus tersedia di tempat dimana kondom dibutuhkan sehingga dapat digunakan. Berdasarkan informasi dalam logika program kondom, WPS lebih mungkin meminta tamu mereka menggunakan kondom bila kondom tersedia di tempat kerja mereka dan laki-laki lebih besar kemungkinan untuk menggunakan kondom blla diminta oleh WPS. Dengan kata lain demikian, kelompok perilaku risiko tinggi perlu tahu tentang kondom, cara menggunakannya, dan cara meminta pasangan untuk menggunakan kondom sehingga kondom harus tersedia di tempat dan saat diperlukan.

2. Kemudahan untuk memperoleh (accesbility). Kondom harus mudah diperoleh ketika seseorang membutuhkannya. Jika kondom berada ditempat dimana pekerja seks bekerja, maka itulah yang dinamakan ”mudah diperoleh (accessible)”. Terkadang kondom tersedia di tempat dimana terjadi transaksi seksual namum kondom hanya dapat diperoleh saat jam kerja toko atau apotik. Artinya, kondom tersedia tetapi tidak mudah diperoleh.

3. Terjangkau – harga (Affodability) Sebaiknya harga dari kondom harus sesuai dengan harga pasar tidak lebih mahal ataupun lebih murah.Jika terlalu mahal orang tidak akan membeliya. Sebaliknya jika harga kondom terlalu murah, pesaing akan menekan untuk keluar dari pasaran, karena akan banyak kompetitor yang tidak suka dengan kondisi tersebut. Ada konsenkuensi yang harus dihadapi saat kita mempengaruhi seseorang untuk pakai kondom. Maksudnya keputusan untuk pakai kondom berarti ada kesempatan yang mungkin hilang yaitu kesempatan untuk mendapat penghasilan karena pelanggan menolak pakai kondom dan mencari KD lain. Dengan demikian ada kemungkinan KD menolak ajakan kita. Tapi kita harus tetap mencoba. (Opportunitic cost=biaya yang hilang)\

4. Memiliki daya tarik (Appeal): Sebuah perusahan pemasaran akan sangat peduli dengan promotion dan positioning dari sebuah produk. Dalam promosi, perusahan pemasaran ingin menyakinkan uniknya produk yang mereka tawarkan, pesan yang positif tentang produk disampaikan kepada pembeli melalui kampanye media. Melalui positioning, mereka ingin meyakinkan bahwa image yang datang ke pikiran pembeli dapat membuat mereka membeli produk yang ditawarkan karena memang produk tersebut menarik. Mereka juga ingin agar produk mereka lebih menonjol dibandingkan produk lain yang sejenis.

Pemasaran Sosial Kondom adalah bagian dari intervensi struktural yang menggunakan sistem outlet alternatif untuk memastikan ketersediaan, kemudahan akses, keterjangkauan harga dan penerimaan kondom di tingkat masyarakat. Mengembangkan jejaring untuk memudahkan ketersediaan dan akses terhadap kondom memerlukan kerjasama diantara beberapa pihak dan memadukan 3 komponen penting dalam intervensi struktural yaitu: regulasi setempat untuk penggunaan kondom secara konsisten (100% Penggunaan Kondom), Distribusi dan suply kondom, serta penapisan IMS.

Untuk mengubah perilaku menjadi lebih aman, terdapat kondisi-kondisi yang harus dipenuhi:

Persepsi Risiko
· Informasi yang akurat dan lengkap
· Perasaan bahwa masalah ini serius
· Meyakini bahwa ini bisa terjadi pada Anda
· Kemampuan untuk secara akurat menilai risiko pribadi secara akurat.

Efektivitas Penyelesaian Masalah
· Keyakinan ada solusi yang menguntungkan, misalnya pemakaian kondom secara konsisten dapat menurunkan mengurangi risiko HIV
· Keyakinan manfaat yang akan diperoleh melebihi “biaya” apapun, misalnya pengurangan risiko lebih penting bagi saya dibandingkan uang, teman sebaya, dll.

Ketrampilan dan Kemampuan Diri
· Percaya diri bahwa KD memiliki kemampuan bertindak. Misalnya, saya dapat membujuk pasangan untuk menggunakan kondom
· Percaya diri bahwa Anda dapat menangani hasil yang tidak diharapkan. Misalnya, saya tidak akan melakukan transaksi seks bila tamu tidak mau menggunakan kondom.
· Merasa bahwa orang lain juga melakukannya sehingga Anda dapat melakukannya juga. Misalnya, teman lain menggunakan kondom sehingga saya pasti bisa melakukannya
· Memiliki cukup banyak keterampilan untuk berhasil. Misalnya, ketrampilan untuk menegosiasikan penggunaan kondom, ketrampilan memasang kondom dengan mulut.

Lingkungan
· Anda mendapat dukungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari teman sebaya, pasangan, masyarakat dan pihak lain yang berarti bagi hidup Anda.
· Hukum, kebijakan, peraturan dan bagaimana semuanya mendukung Anda melakukan perilaku baru.

Produk dan Layanan
· Produk dan layanan tersedia, dapat diakses, terjangkau dan dapat diterima (ramah, nyaman, menarik), dll.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized
Ditandai: , , , , ,

Perawatan Komprehensif Berkesinambungan

Januari 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Perawatan Komprehensif Berkesinambungan bagi ODHA

A. Perawatan komprehensif kesinambungan

Perawatan komprehensif berkesinambungan melibatkan suatu jejaring kerja diantara semua sumber daya yang ada dalam rangka memberikan pelayanan dan perawatan secara holistik, komprehensif dan dukungan yang luas bagi ODHA dan keluarganya. Perawatan komprehensif tersebut meliputi perawatan di rumah sakit dan di rumah selama perjalanan penyakit. Sebelum diputuskan untuk memberikan perawatan komprehensif perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain sumber daya yang memadai yaitu dukungan dana, bahan dan alat, sumber daya manusia, baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat serta jalinan kerjasama yang baik diantara mereka. Perawatan tersebut meliputi tatalaksana klinis, perawatan pasien secara langsung, pendidikan, pencegahan, konseling, perawatan paliatif dan dukungan sosial.

B. Komponen Perawatan Komprehensif Berkesinambungan

Konsep mata rantai perawatan komprehensif yang berkelanjutan dibangun atas dasar pelayanan peawatan HIV dan AIDS dalam kerjasam tim dan harus meliputi beberapa komponen seperti berikut:
1. Konseling dan test HIV sukarela (Voluntary Counseling Testing/VCT) adalah titik awal pelayanan dan perawatan yang berkelanjutan dan merupakan tempat mereka datang untuk bertanya, belajar, menerima status HIV seseorang dengan privasi yang terjaga, yang mampu menjangkau dan menerapkan perawatan dan upaya pencegahan yang efektif.
2. Tata laksana kasus infeksi simtomatik dengan diagnosis dini yang memadai, pengbatan yang rasional, pemulangan yang terencana, kemempuan untuk melakukan rujukan ke penyelenggara layanan yang lain.
3. Asuhan keperawatan yang mampu memberikan kenyamanan pasien dan higienis, mampu mengendalikan infeksi dengan baik, memberikan perawatan paliatif dan menangani kasus terminal, melatih dan mendidik keluarga tentang perawatan dirumah dan pencegahan penularan serta melakukan promosi pemakaian kondom.
4. Perawatan dirumah dan dimasyarakat termasuk diantaranya melatih keluarga dan relawan tentang tatacara perawatan, pengobatan gejala yang sering muncul, serta perawatan paliatif.
5. Promosi gizi yang baik, dukungan psikologis dan emosional, dukungan spiritual dan konseling.
6. Membentuk kelompok dukungan di masyarakat untuk memberikan dukungan emosional kepada ODHA dan para pendampingnya. Dalam kelompok ini dapat dijajaki kesempatan untuk meningkatkan dan menciptakan sumber pendapatan.
7. Mengurangi dan menyingkirkan stigma, membangun sikap positif dari masyarakat terhadap ODHA dan keluarganya, termasuk para petugas kesehatanbaik dijajaran pemerintah maupun swasta dan ditempat kerja.
8. Dukungan social atau rujukan kepada pelayanan social untuk mengatasi permasalahan di tempat tinggal, lingkungan pekerjaan, bantuan hokum, serta memantau dan mencegah terjadinya diskriminasi.
9. Pedidikan dan pelatihan tentang tatalaksana dan pencegahan HIV dan AIDS bagi para pendamping ODHA (petugas kesehatan, keluarga, tetangga,dan relawan)
10. Membangun kerja sama antar penyelenggara layanan (Klinik, Sosial, kelompok dukungan) agar layanan terjangkau melalui system rujukan yang saling mendukung.

C. Tempat Perawatan

1. Perawatan dirumah

Perawatan dirumah adalah perawatan yang diberikan kepada ODHA ditempat tinggalnya sendiri.dalam hal ini termasuk orang-orang yang merawat dirinya sendiri, keluarga,teman, tetangga, perawat, bidan, pekerja social, atau petugas kesehatan lainnya . Perawatan tersebut dapat berupa perawatn fisik, dukungan psikososial, spiritual, dan paliatif.

2. Masyarakat

Dukungan masyarakat adalah perawatan atau dukungan yang diberikan dalam masyarakat. Perawatan tersebut dapat diberikan oleh perawat, bidan, relawan yang terlatih, petugas kesehatan masyarakat, dukun tradisional, LSM, tokoh masyarakat, guru, kelompok pemuda, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan lain-lain. Dengan melibatkan masyarakat dalam perawatn tersebut maka kualitas hidup ODHA akan ditingkatkan. Perawat dan petugas social dapat memiliki peran penting dalam menarik partisipasi masyarakat setempat dalam hal menerima dan memberikan dukungan kepada ODHA.

3. Pusat Kesehatan Masyarakat

Perawatan bagi ODHA di sarana pelayanan kesehatan primer atau dasar di Pusat kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Puskesmas Pembantu (Pustu) dapat diberikan oleh pembantu perawat.

4. Rumah Sakit di tingkat Kabupaten Kota

Pelayanan kesehatan lanjutan bagi para ODHA tersedia di Rumah Sakit kabupaten dimana tersedia tenaga dokter, perawat, konselor, pekerja sosial, dan sarana pendidikan dan pelatihan. Bantuan hukum juga dapat diberikan.

5. Rumah Sakit rujukan di Provinsi/ Nasional

Pelayanan ditingkat rujukan tersebut berupa pelayanan medis spesialis sebagai tambahan yang berada di tingkat kabupaten / kota.

D. Prinsip Dasar Perawatan Komprehensif Berkesinambungan

1. Perawatan dan pencegahan yang terpadu yang memberikan layanan perawatan secara lengkap dan menyeluruh
2. Perawatan dan pencegahan yang tidak diskriminatif dan menghakimi
3. Menjaga kerahasiaan dan menghormati hak asasi
4. Asuhan keperawatan dan medis untuk meringankan gejala penyakit terkait HIV serta pencegahan terjadinya infeksi oportunistik
5. Konseling dan dukungan psikososial, aktif mendengarkan keluhan ODHA dan keluarganya, serta memberdayakan mereka agar mampu membuat rencana kedepan
6. Menyediakan dukungan bagi perawatan di rumah
7. Mobilisasi sumber daya di masyarakat untuk perawatan lengkap menyeluruh serta efisien
8. Dukungan berupa pendidikan dan pelatihan serta supervisi bagi pemberi layanan dan staff

E. Memandu Perawatan dan Pencegahan HIV

Memadukan upaya perawatan dan pencegahan merupakan strategi yang penting. Komponen yang sangat vital pada perawatan ODHA adalah mendengarkan dan menarik pembelajaran dari ODHA dan keluarganya. Pelayanan konseling klinik IMS,Klinik KIA, dan pelayanan kesehatan lainnya memiliki peran penting. Memadukan upaya perawatan dan pencegahan akan memberi peluang untuk melakukan konseling dan tes HIV sukarela, pendidikan tentang perilaku yang beresiko dan distribusi kondom. Kegiatan tersebut harus disertai dengan konseling, tatalaksana klinis dan perawatan. Perlu juga untuk menggalang dukungan masyarakat agar orang mampu merawat dirinya sendiri.

F. Menjalin Jaringan Pelayanan Berkesinambungan

Menjalin layanan di Rumah Sakit, Puskesmas,dan di masyarakat, agar terjadi perawatan dan pelayanan yang berkesinambungan dan memenuhi kebutuhan Odha merupakan hal yang rumit. Hal terpenting adalah memusatkan upaya pada kerjasama yang saling mendukung bagi rekan yang lain. Dengan demikian kelompok lain yang memiliki keterampilan lebih spesifik dapat memberi pelatihan kepada kelompok lainnya. Atau salah satu kelompok hanya memusatkan pada pelayanan tertentu yang merupakan bagian dari perawatan lengkap, diikuti dengan system rujukan yang efektif kepada kelompok lain yang memiliki kemampuan untuk memberikan layanan dibidang lainnya.
Dengan pelayanan yang berkesinambungan diasumsikan bahwa system pendukung seperti dibawah ini tersedia secara terpadu dan dapat berjalan secara efektif dan efisien ;

1. Tersedianya bahan KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) yang sesuai untuk promosi pencarian perawatan dan destigmatisasi penyakit
2. Mobilisasi masyarakat untuk membangun program layanan masyarakat
3. Terjalinnya kemitraan antara pemerintah dan LSM yang bergerak dibidang kesehatan dan sosial
4. Tersedianya prosedur rujukan antara Rumah Sakit di pusat dan di daerah
5. Tersedianya prosedur rujukan antara pasien beserta keluarganya dengan lembaga dukungan social atau LSM
6. Tersedianya prosedur supervisi dari sarana kesehatan di tingkat pusat sampai ke daerah termasuk para relawan. Pelatihan bagi petugas dan relawan

G. Asuhan Keperawatan HIV dan AIDS Dewasa dengan Penyakit Penyerta

Asuhan keperawatan bagi pasien HIV dan AIDS beserta penyakit yang menyertainya sama saja dengan asuhan keperawaan yang harus diberikan pada pasien lainnya. Oleh karenanya semua perawat/bidan serta petugas kesehatan lainnya yang berkepentingan harus memiliki ketrampilan yang memadai dalam memberikan asuhan keperawatan pasien HIV dengan penyakit lain, yaitu semua prinsip asuhan keperawatan harus diterapkan secara bertanggung jawab. Sebagai tambahan, semua gejala dan tanda penyakit yang berhubungan dengan infeksi HIV akan mudah dikenali oleh para perawat tersebut oleh karena tingkat pengetahuan dan pengalaman mereka dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan penyakit kronis dan progresif lainnya.
Hampir semua pasien HIV akan berkembang menjadi AIDS disertai penyakit penyerta lainnya. Kecepatan perkembangan penyakit tersebut tergantung dari jenis virus dan kondisi masing-masing pasien. HIV menginfeksi kedua jaringan saraf baik pusat maupun perifer sejak awal perkembangn penyakitnya, dan sering menimbulkan masalah neurologik dan psikiatrik. Seiring dengan perkembangan infeksi HIV dan penurunan derajat imunitas seseornga maka pasien cenderung untuk mendapatkan infeksi oportunistik dan kondisi patologik lainnya. Infeksi opotunistik dan kanker yang berhubungan dengan AIDS menyerang tubuh yang memiliki system imunitas yang rendah.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Teknik Pemberdayaan
Ditandai: , ,

Kompas: HIV, Seks dan Kita

Desember 30, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kompas: HIV, Seks dan Kita      
Memasuki usia 20 tahun, Laila—bukan nama sebenarnya—telah menanggung beban hidup yang teramat berat. Virus HIV telah merenggut nyawa suami dan buah hatinya yang baru berusia delapan bulan.

Tubuh perempuan malang ini pun digerogoti virus ganas yang hingga kini belum ditemukan obatnya itu sehingga terpaksa berhenti bekerja sebagai karyawan toko baju.

Kisah berawal ketika ia menerima pinangan kekasihnya setelah masa pacaran beberapa tahun meski ia mengetahui calon suaminya adalah seorang pencandu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza).

Harapannya, dengan membina rumah tangga, kebiasaan buruk itu bisa berhenti sesuai dengan janji sang kekasih. Beberapa bulan setelah menikah, Laila pun mengandung.

Di tengah sukacita menyambut kehadiran sang buah hati, suaminya yang sehari-hari bekerja di bengkel mobil kembali kecanduan narkoba dengan memakai jarum suntik.

Sang suami akhirnya jatuh sakit. Saat itulah dia tahu bahwa suaminya positif terinfeksi HIV. Atas saran dokter, Laila ikut menjalani pemeriksaan HIV dan ternyata juga dinyatakan positif tertular HIV.

Belum cukup derita yang dialaminya, belakangan anak semata wayangnya juga dinyatakan terinfeksi HIV. Ia juga sempat dikucilkan oleh kerabat dan tetangganya yang takut tertular.

Kondisi suaminya makin parah. Selama beberapa minggu suaminya menderita diare, demam, nyaris hilang ingatan, dan terserang tuberkulosis paru.

Hanya beberapa pekan dirawat di rumah sakit, suami Laila akhirnya mengembuskan napas terakhir. Anak lelakinya meninggal saat menginjak usia tiga tahun karena infeksi oportunistik, yaitu tuberkulosis paru.

Kehilangan dua orang yang dicintai sempat membuatnya terpuruk. Perlahan, ia mulai bangkit dan aktif dalam berbagai kegiatan penyuluhan HIV/AIDS yang mempertemukannya dengan seorang pria sesama orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang kini jadi pendamping hidupnya.

Kini ia dikaruniai seorang putri yang sehat dan tengah mengandung anak kedua. Laila adalah satu dari antara sekian banyak perempuan yang tertular HIV dari pasangannya melalui hubungan seksual tanpa menggunakan alat kesehatan reproduksi seperti kondom.

Selain harus berjuang mempertahankan hidup, mereka juga menanggung beban pengobatan bagi anak-anak mereka yang dinyatakan positif HIV begitu dilahirkan.

hubungan seksual

”Sebanyak 46,2 persen dari total kasus penularan HIV terjadi melalui hubungan seksual, khususnya heteroseksual,” kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafsiah Mboi.

Penularan virus HIV juga terjadi karena penggunaan napza melalui jarum suntik tidak steril secara bergantian yang proporsinya mencapai 49,1 persen dari total jumlah kasus.

Berdasarkan data Departemen Kesehatan, per Juni 2008 jumlah orang terinfeksi HIV tersebar di 195 kabupaten/kota di 32 provinsi Indonesia.

Kasus terbanyak ditemukan di lima provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua, dan Bali. Secara kumulatif, per Juni 2008, jumlah ODHA sebanyak 18.963 orang, terdiri atas 6.277 orang terinfeksi HIV dan 12.686 hidup dengan AIDS.

Tahun 2009 diperkirakan jumlah ODHA di Indonesia mencapai 169.230-216.820 orang. Saat ini berdasarkan data Badan PBB untuk Penanggulangan AIDS, UNAIDS, Indonesia termasuk negara dengan epidemi HIV terkonsentrasi, di mana pada subpopulasi tertentu prevalensinya sudah 5 persen atau lebih.

”Di Indonesia tidak ada provinsi bebas HIV dan AIDS. Bahkan, Provinsi Papua dan Papua Barat tergolong daerah dengan epidemi pada populasi umum level rendah, di mana dalam masyarakat umum, orang yang terinfeksi HIV lebih dari 1 persen,” kata Country Coordinator UNAIDS Nancy Fee.

Langkah terbaik menghindari HIV dan penyakit infeksi menular seksual lain serta kehamilan yang tidak diinginkan adalah pantang berhubungan seks sebelum menikah dan saling setia dengan pasangan.

”Namun, pada setiap hubungan seksual yang berisiko penularan IMS dan HIV, penggunaan kondom merupakan perilaku bertanggung jawab,” ujar Nafsiah Mboi menegaskan.

”Menggunakan kondom adalah salah satu alat memelihara kesehatan reproduksi, baik sebagai alat kontrasepsi maupun pencegahan penularan HIV,” kata Sekretaris Umum Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sudibyo Alimoeso menegaskan.

Saat ini jumlah orang yang rawan tertular HIV diperkirakan 193.000 orang, yaitu para pengguna narkoba suntik, pelanggan pekerja seks komersial, pekerja seks, waria, dan pelanggan waria. Namun, hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menunjukkan rendahnya tingkat penggunaan kondom secara nasional, yaitu hanya 1,5 persen dari total jumlah akseptor KB.

Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang cara mengurangi risiko tertular HIV dengan kondom serta adanya sejumlah mitos mengenai kondom yang di antaranya memiliki pori, tidak efektif, mudah robek, dan mutu jelek.

”Hal ini diperparah oleh adanya stigmatisasi kondom dan AIDS, yaitu tabu, biasa dipakai oleh homoseks, identik dengan berganti pasangan, dan oleh sebagian orang dianggap memperluas pelacuran atau perzinahan,” ujar Sudibyo.

Polemik di kalangan masyarakat itu menyebabkan kampanye pencegahan penularan HIV dan penyakit IMS lain melalui hubungan seks secara aman tidak berjalan baik.

”Padahal, ada beberapa kelebihan pemakaian kondom dibandingkan dengan alat kontrasepsi lainnya, yaitu tidak perlu memakai resep, murah, mudah didapat, mudah dipakai, efek samping sedikit, dan mencegah penularan infeksi menular seksual.

Sejumlah penelitian juga telah membuktikan efektivitas alat kesehatan itu,” kata Sudibyo menambahkan. Maka dari itu, kesadaran akan pentingnya penggunaan kondom di Indonesia perlu ditingkatkan dengan melibatkan semua pihak, baik unsur pemerintah, swasta, maupun yayasan nirlaba.

”Tetapi, jika seseorang berperilaku berisiko, cegah penularan dengan memakai kondom,” ujar Nafsiah. Menurut Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Tarmizi Taher, kelompok agama berperan besar dalam memberi pemahaman yang benar tentang perilaku untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan dan IMS, termasuk HIV/AIDS.

”Pemuka agama harus bisa memberi pemahaman bahwa alat kesehatan seperti kondom justru dapat menyelamatkan jiwa,” ujar mantan Menteri Agama RI ini.

 

 

 

 

EVY RACHMAWATI

→ Tinggalkan KomentarKategori: Teknik Pemberdayaan
Ditandai: , , , , , ,