DEPOK – Ironis. Kota Depok yang dikelilingi sejumlah perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, ternyata menyimpan persoalan tragis: masih banyak warga yang ditemukan menderita gizi buruk.
Pak Wali Kota, bagaimana ini?
Seperti yang dialami pasangan Rudi Salam (26) dan Rini (24), warga RT 08/20 Kelurahan Bhakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Putri pertamanya, Alfianti (1,6), kini menderita gizi buruk dan masih dalam perawatan di Puskesmas Kecamatan Sukmajaya. Alfianti yang lahir normal dengan berat 2,8 kilogram (kg), dalam perkembangannya, kondisi fisiknya makin menurun.
“Sejak putri kami lahir, perkembangan fisiknya tidak normal, karena meskipun sudah berusia 18 bulan, berat badanya masih 5,7 kilogram,” kata Rini kepada SH di Puskesmas Kecamatan Sukmajaya, Jumat (19/3) sore.
Menurut Rini, suaminya yang tidak memiliki pekerjaan tetap hanya mampu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, sedangkan untuk membeli susu, pendapatan keluarga ini tidak mencukupi.
“Kadang suami saya menganggur sampai dua bulan dan kalaupun bekerja, uang yang didapat tidak mencukupi,” tuturnya. Dia mengaku masih tinggal bersama dengan orang tua mereka.
Saat ini Alfianti masih dalam pemulihan di puskesmas dengan menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM). Kondisinya sangat memprihatinkan. Selain menderita gizi buruk, ia juga mengalami gangguan kelainan jantung (ASD). Alfianti rencananya akan dioperasi di Rumah Sakit (RS) Harapan Kita, Jakarta Barat.
“Biaya operasi untuk putri saya nantinya ditanggung oleh Lembaga Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Kota Depok dan dengan menggunakan kartu SKTM. Oleh karena tidak semua kebutuhan operasi ditanggung SKTM dan LKC maka saya masih mengharapkan bantuan dari tetangga,” ujarnya. Ia menambahkan, Alfianti sudah dua bulan dirawat di Puskesmas Kecamatan Sukmajaya dan berat badannya kini sudah mencapai 6,6 kg.
Hal yang sama juga dialami pasangan keluarga Iwan Junaidi (30) dan Astri (28). Sejak kelahiran putrinya Dea Intan (1,2), keluarga ini tak mampu memenuhi kebutuhan makanan tambahan dan susu bagi putrinya. Anak ketiga dari warga Kampung Pala RT 04/08, Kelurahan Cipayung Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok ini, menderita gizi buruk dan saat ini sudah 23 hari dirawat di Puskesmas Kecamatan Sukmajaya.
“Saya masih bersyukur, putri saya bisa dirawat di puskesmas ini menggunakan kartu SKTM. Kalau dirawat di rumah sakit swasta, kami jelas tidak mampu, karena suami saya hingga sekarang tidak memiliki perkerjaan tetap,” tutur Astri, ibu Dea Intan mengeluh.
Dia mengatakan, kelahiran putri ketiganya itu berlangsung normal dengan berat badan mencapai 2,5 kg dan pada awal masuk dalam perawatan di puskesmas, berat badannya 5,5 kg. Namun, setelah dalam 23 hari dirawat, berat badan Dea kini sudah mencapai 6,3 kg.
Korban PHK
Lain halnya dengan yang dialami Fitrah Rapih Antoro (1,5), balita penderita gizi buruk dari lingkungan RT 04/12 Kelurahan Bhakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Sejak orang tuanya, Agus (34), menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) dari salah satu perusahaan swasta di Kota Depok pada Juli 2009 lalu, keluarga ini tidak mampu lagi membeli susu dan makanan tambahan bagi Fitrah.
“Suami saya kini sudah tidak lagi bekerja, sementara untuk biaya hidup sehari-hari kami terpaksa mengandalkan orang tua,” ujar Fuji (31), ibu dari Fitrah Rapih Antoro. Dia mengatakan, sulitnya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari membuat pasangan keluarga Agus dan Fuji ini terpaksa harus mengandalkan kartu SKTM untuk pemulihan gizi putra keduanya itu.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Hardiono me*ngatakan, hingga saat ini masih ditemukan sekitar 227 kasus balita penderita gizi buruk yang tersebar di enam kecamatan di Kota Depok. Dalam pemberantasan gizi buruk ini, pihaknya menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya kondisi ekonomi keluarga di bawah garis kemiskinan sehingga kasus gizi buruk mudah terjadi. Selain itu, kendala lain yang juga menjadi faktor utama penyebab gizi buruk adalah kebiasaan orang tua dalam mengurus anak di mana nutrisi yang baik untuk anak tidak menjadi prioritas utama sehingga penyakit ini terjadi.
Meski demikian, Hardiono berjanji pihaknya akan terus mengupayakan agar balita penderita gizi buruk terus berkurang. “Target kami sebanyak 85 persen balita di Kota Depok, bebas gizi buruk tahun 2010,” ujarnya.
Menurutnya, ada beberapa program yang dilakukan pe*me*rintah untuk menekan hal ini. Di antaranya pengadaan pos-pos gizi, penyuluhan posyandu, dan pemberian makanan tambahan pada balita.
“Selain itu, kita pun melakukan Program Teraupeutic Feeding Center (TFC) sebagai bentuk terapi penyembuhan balita gizi buruk di dua puskesmas di Depok, yakni Puskesmas Sukmajaya dan Cimanggis,” ujarnya.
Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Kota Depok Roy Pengharapan mengatakan, pihaknya sangat prihatin de*ngan masih banyaknya balita penderita gizi buruk yang ada di kota ini. “Untuk itu perlu dicari akar penyebabnya dan Pemkot Depok tentu yang paling bertanggung jawab dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan agar para orang tua balita gizi buruk mendapat penghasilan yang layak,” ujarnya. (str-1)
Sinar Harapan, 20 Maret 2010
——–
Dimanakah janji-janji saat kampanye pemilu?